Madinapos.com, Panyabungan Barat – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) mengambil langkah konkret untuk membangkitkan kembali komoditas unggulan daerah yang sempat meredup.
Pemkab Madina menyiapkan lahan seluas empat hektare di Desa Hutatonga, Kecamatan Panyabungan Barat, sebagai pilot project pengembangan pisang kepok yang terbebas dari penyakit layu fusarium.
Bupati Mandailing Natal, H. Saipullah Nasution, bersama jajaran terkait meninjau langsung kesiapan lahan tersebut pada Kamis (9/7/2026). Dalam upaya ini, Pemkab Madina menggandeng tim akademisi dari Universitas Medan Area (UMA), yakni Prof. Zulkarnain Lubis, Prof. Suswati, dan Assoc Prof. Syahbudin Hasibuan.
Bupati Saipullah menyampaikan bahwa proyek ini tidak hanya bertujuan mengembalikan kejayaan pisang kepok Madina, tetapi juga dirancang sebagai destinasi agrowisata terpadu.
“Kita akan mengombinasikan kebun ini dengan kolam, pondok, serta pusat kuliner berbasis olahan pisang. Kita siapkan saung agar masyarakat bisa menikmati suasana kebun,” ujar Saipullah.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pengembangan ini mencakup aspek hilirisasi. Pemkab Madina berencana mendaftarkan pisang kepok asli daerah ke Indeks Geografis serta mengembangkan produk industri turunan seperti tepung dan aneka kue yang nantinya akan dikelola oleh pelaku UKM setempat.
Prof. Suswati menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Desa Hutatonga didasarkan pada kondisi kesehatan tanah yang optimal. Hal ini krusial mengingat tantangan besar dari penyakit layu fusarium dan penyakit darah yang memerlukan waktu pemulihan tanah hingga 20 tahun.
“Untuk memastikan keberhasilan, bibit akan diperbanyak melalui teknik kultur jaringan tanpa bunga jantan. Dengan cara ini, tanaman dapat terbebas dari risiko penularan penyakit darah oleh serangga,” jelas Prof. Suswati.
Sementara itu, Assoc Prof. Syahbudin Hasibuan menambahkan bahwa kebun ini akan menerapkan konsep zero waste atau tanpa limbah. Batang pisang yang ditebang nantinya akan diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Prof. Zulkarnain Lubis menargetkan bahwa setelah tim berhasil memproduksi bibit unggul yang tahan terhadap layu fusarium, benih tersebut akan segera dibagikan kepada masyarakat.
“Kami juga akan melakukan sosialisasi intensif kepada petani mengenai teknik budidaya yang tepat. Sudah lebih dari 20 tahun kita kehilangan potensi besar ini, dan sekarang saatnya kita kembalikan,” ungkapnya.
Langkah ini disambut optimis, mengingat permintaan pasar terhadap pisang kepok, baik dalam bentuk buah segar maupun produk olahan, terus meningkat seiring menjamurnya sektor ekonomi kreatif seperti kafe dan kedai kopi di tingkat daerah hingga ibu kota provinsi.
Kegiatan peninjauan tersebut turut dihadiri oleh Asisten I Drs. M. Sahnan Pasaribu, Kepala Dinas Pertanian Taufik Zulhandra Ritonga, Kepala Dinas Pariwisata Syukur Soripada Nasution, Kepala Dinas Perikanan Alinafiah, Kepala Dinas Kominfo M. Syail Lubis, serta Camat Panyabungan Barat Ainannur. (Suaib Rizal).


