Oleh:
Dr. Faisal Musa, M.Pd
Dosen Sejarah Peradaban Islam STAIN Mandailing Natal
Dahulu, untuk mengetahui sesuatu, seorang santri harus mencari guru. Kini untuk mengetahui sesuatu, ia cukup mencari di layar gadget. Perubahan itu tampak sederhana. Nanun, di baliknya berlangsung perubahan yang jauh lebih besar, yakni perubahan cara manusia memperoleh pengetahuan sekaligus cara manusia memperlakukan pengetahuan.
Seorang santri, dahulu datang kepada kiai dengan membawa pertanyaan. Ia duduk menunggu, mendengar, lalu pulang dengan jawaban. Dalam proses itu, sesungguhnya ia tidak haya mendapatkan ilmu. Ia juga belajar menunggu, mendengarkan, menghormati, dan menyadari bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan tergesa-gesa.
Di zaman digital hari ini, hampir semua hal dapat dijawab dalam hitungan detik. Mesin pencari, media sosial, video pendek, podcast, hingga kecerdasan buatan berlomba-lomba memberikan jawaban. Pengetahuan yang dahulu berada di ruang-ruang pengajuan, kini berpindah ke ujung jari.
Persoalannya bukan apakah perubahan itu baik atau buruk. Persoalannya adalah ketika pengetahuan menjadi begitu mudah diperoleh. Apakah adab masih dianggap penting? Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita melihat ruang digital. Di sana, orang dapat berbicara tanpa harus melihat wajah orang yang diajak bicara.
Seorang dapat menilai kehidupan orang lain hanya dari beberapa detik video. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi saling caci. Kesalahan kecil dapat menjadi konsumsi ribuan orang. Bahkan orang yang tidak mengenal kita dapat merasa berhak menentukan siapa kita.
Teknoligi membuat suara manusia semakin keras. Tetapi belum tentu membuat manusia semakin bijaksana. Di sinilah pesantren memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan. Pesantren selama berabad-abad tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui seorang santri, tetapi juga bagaimana seorang yang mengetahui sesuatu harus bersikap.
Tradisi pesantren menguji kitab, misalnya, tidak berhenti pada memahami teks. Ada cara duduk, cara membawa kitab, cara berbicara kepada guru, cara bertanya, bahkan cara berbeda pendapat. Semua itu membentuk kebiasaan yang pelan-pelan menjadi watak.
Adab tidak hanya diajarkan dengan defenisi. Adab ditanamkan melalui kebiasaan dan keteladanan. Seorang santri belajar menghormati guru bukan semata-mata karena ada bab khusus tentang menghormati guru. Ia melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya memperlakukan kiai. Ia mengalamai sendiri bagaimana sebuah nasihat diberikan. Ia merasakan bagaimana sebuah teguran, meskipun kadang tidak menyenangkan, sebenarnya lahir dari perhatian.
Karena itu, hubungan kiai dan santri memiliki sesuatu yang sulit diberikan oleh teknologi. Kecerdasan buatan dapat menjelaskan apa itu rendah hati. Tetapi ia tidak dapat menjadi teladan kerendahan hati. Mesin dapat menjelaskan pentingnya kesabaran, tetapi ia tidak dapat menegur seorang santri dengan kasih sayang ketia ia kehulangan kesabaran.
Algoritma dapat merekomendasikan ribuan ceramah tentang akhlak. Tetapi ia tidak dapat menggantikan pengalaman seorang santri melihat gurunya tetap tenang ketika menghadapi persoalan yang sulit.
Di sinilah letak persoalan pendidikan kita hari ini. Kita terlalu sibuk bertanya apakah anak-anak kita cerdas, tetapi kurang bertanya apakah mereka dewasa. Kita mengukur kemampuan mereka menghafal, menjawab, berargumentasi, dan menggunakan teknologi.
Tetapi siapa yang mengajarkan mereka untuk berehenti sejenak sebelum mengomentari orang lain? Siapa yang mengajarkan bahwa tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang menyakiti? Siapa yang mengajakan bahwa memenangkan perdebatan tidak selalu berarti memenangkan kebenaran? Dan siapa yang mengajarkan bahwa mengatakan “saya tidak tahu” terkadang jauh lebih mulia daripada memberikan jawaban yang sebenarnya tidak kita kuasai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada makna pendidikan pesantren. Pesantren tidak boleh menjadi institusi yang memusuhi teknologi. Itu bukan jalan keluar. Santri justru harus mampu menguasai teknologi karena mereka akan hidup di dalam dunia yang semakin digital. Tetapi teknoligi harus ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai guru kehidupan.
Santri perlu diajarkan cara menggunakan media sosial tanpa kehilangan kesantunan. Perlu dibekali kemampuan memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Perlu memahami bahwa popularitas bukan ukuran kebenaran. Perlu menyadari bahwa sebuah informasi yang viral tidak otomatis menjadi informasi yang benar.
Lebih dari itu, santri perlu memiliki keberanian untuk tidak ikut-ikutan. Sebab salah satu penyakit zaman digital adalah keinginan untuk selalu hadir dalam setiap percakapan. Semua orang ingin berkomentar, semua orang ingin terlihat tahu, dan semua orang ingin pendapatnya didengar.
Padahal, salah satu bentuk kedewasaan adalah mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Barangkali inilah salah satu pelajaran paling penting yang dapat diberikan pesantren kepada generasi digital. Bykan menjadikan santri manusia yang anti-teknologi, melainkan manusia yang tidak kehilangan dirinya ketika berhadapan dengan teknologi.
Kiai pun menghadapi tantangan yang sama. Otoritas keilmuan tidak lagi hanya berada di ruang pesantren. Di layar telepon genggam, seorang santri dapat menemukan banyak tokoh, guru, ustaz, bahkan “guru” yang tidak pernah dikenalnya.
Ini tidak perlu ditakuti. Justru keadaan tersebut harus menjadi kesempatan bagi kiai untuk mengubah peran: dari sekedar sumber jawaban menjadi penuntun cara berfikir dan cara bersikap. Sebab di tengah banjir informsi, yang paling dibutuhkan manusia bukan sekedar tambahan informasi. Yang dibutuhkan adalah arah.
Kita mungkin akan semakin sering menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Mesin akan semakin pintar, informasi akan semakin cepat, dunia akan semakin terkoneksi, namun semua itu tidak otomatis membuat manusia semakin manusia.
Teknologi dapat mempercepat perjalanan, tetapi ia tidak menentukan tujuan. Teknologi dapat memperbanyak pengetahuan, tetapi ia tidak menjamin kebaijaksanaan. Teknologi dapat membuat manusia semakin terhubung, tetapi ia tidak selalu membuat manusia semakin peduli terhadap sesame.
Karena itu, masa depan pesantren tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya memasuki dunia digital. Masa depan pesantren justru sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga sesuatu yang semakin sulit ditemukan di dunia digital, yakni adab – al adabu fauqal ilmi.
Santri boleh menjadi generasi yang paling menguasai teknologi. Beleh menjadi programmer, peneliti, pengusaha, akademisi, birokrat, atau apa pun yang mereka cita-citakan. Tetapi di manapun mereka berada, mereka harus tetap tahu bagaimana menghormati orang lain. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menjawab pertanyaan. Masyarakat membutuhkan orang yang tahu bagaimana menggunakan jawabannya.
Dan mungkin, di tengah zaman ketika manusia semakin mudah berbicara tetapi semakin sulit mendengarkan, tugas pesantren yang paling penting bukanlah membuat suara santri semakin keras. Melainkan memastikan bahwa di balik suara itu masih ada adab. Ketika ilmu kehilangan adab, kecerdasan dapat berubah menjadi kesombongan. Dan ketika teknologi kehilangan nilai, kemajuan hanya akan membuat manusia lebih cepat-termasuk lebih cepat kehilangan kemanusiannya. Wallahu’alam bi al-showab.

