Musim Tanam Terancam, Petani di Panyabungan Selatan Menjerit Akibat Kelangkaan Pupuk Subsidi

Madinapos.com, Panyabungan Selatan – Memasuki masa tanam padi, petani di wilayah Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, justru dihadapkan pada krisis pupuk bersubsidi. Kelangkaan ini memicu keresahan massal, lantaran petani terancam gagal mengoptimalkan hasil panen akibat keterbatasan nutrisi tanaman yang sangat vital di awal masa tanam.

Kondisi kritis ini tidak hanya terjadi di Panyabungan Barat, namun kini meluas hingga ke pelosok desa di Panyabungan Selatan. Petani setempat mengaku pasrah, namun sekaligus kecewa dengan distribusi yang dinilai tidak rasional.

“Petani menjerit karena sangat membutuhkan pupuk untuk mengejar musim tanam ini. Sempat masuk jatah dua sak beberapa hari lalu, namun, petani hanya bisa menerima satu sak saja. Ini tentu sangat jauh dari kebutuhan riil di lahan,” ujar salah seorang petani dengan nada emosional saat ditemui, Selasa (26/5/2026).

Yang membuat pemilik kios semakin heran adalah distribusi pupuk yang tampak tidak merata di wilayah Mandailing Natal. Berdasarkan informasi yang dihimpun pemilik kios dari rekan sesama pengecer, wilayah lain justru tidak mengalami kendala berarti.

“Informasi yang saya dapatkan dari sesama pengelola kios, di kecamatan lain pasokan pupuk bersubsidi justru lancar dan tidak ada kelangkaan. Mengapa di Panyabungan Selatan justru terjadi hambatan serius seperti ini?” ujarnya dengan nada bertanya-tanya.

Hambatan ini bukan sekadar masalah stok kosong, melainkan diduga kuat ada kendala pada mata rantai distribusi. Pemilik kios pengecer pupuk subsidi mengaku tak berdaya menghadapi situasi ini karena kiriman dari pihak distributor tersendat parah.

“Dua minggu lalu kami sudah memesan 15 ton pupuk sesuai kebutuhan petani, namun yang terealisasi hanya 5 ton. Padahal, saat ini adalah puncak kebutuhan petani,” ungkap pemilik kios yang enggan disebutkan namanya.

Lebih lanjut, pihak kios menegaskan bahwa mereka telah menuntaskan kewajiban administratif, termasuk penyetoran uang penebusan pupuk ke pihak distributor sejak dua pekan lalu. Namun, hingga detik ini, barang yang telah dibayar tersebut tak kunjung tiba di gudang kios.

“Uang penebusan sudah kami setor dua minggu lalu, prosedurnya sudah kami ikuti, tapi barangnya belum juga dikirim. Distributor seolah tidak peduli dengan urgensi kebutuhan petani saat ini,” tambahnya.

Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu penurunan produktivitas pangan di tingkat daerah. Jika polemik distribusi ini tidak segera diurai, bukan tidak mungkin petani akan beralih ke pupuk non-subsidi dengan harga yang jauh lebih mahal, yang akan menambah beban ekonomi petani.

Para petani di Panyabungan Selatan mendesak Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Pertanian untuk tidak tinggal diam. Mereka meminta pihak terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan mengevaluasi kinerja distributor pupuk yang terkesan lalai dan menghambat distribusi di masa kritis tanam padi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak distributor belum dapat dikonfirmasi walaupun media ini sudah mencoba menghubungi melalai WhatsApp. (Suaib Rizal).