Semarak HUT RI ke-81 di Madina: Ratusan Pelajar Hidupkan Marturi, Catatan & Isyarat Kritik Seorang Akademisi Teater

Madinapos.com, Panyabungan – Suara alunan suling dan tuturan turi-turian bergema hingga larut malam di Alun-Alun Taman Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Dalam rangka memeriahkan Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menggelar perlombaan seni tradisi Marturi (cerita rakyat) dan seni tari.Rabu (12/8/2026).

kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB hingga usai pukul 23.30 WIB ini menyedot perhatian besar warga. Ratusan pelajar utusan dari berbagai sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA/sederajat sekabupaten Madina tampil unjuk kebolehan di atas panggung.

Sebagai seseorang yang berlatar belakang pendidikan teater, saya mengamati dari dekat bagaimana gelaran Marturi ini tumbuh sejak awal kemunculannya tiga tahun lalu. Gerakan ini tidak lepas dari tangan dingin Bapk Askolani Nassution, seorang penulis dan budayawan lokal yang secara konsisten membukukan cerita-cerita rakyat (Turi-turian) tanah Mandailing.

Kedekatan ruang diskusi saya dengan Pak Askolani memberikan pemahaman mendalam bahwa pembakuan Turi-turian ini bukan sekadar proyek literasi biasa, melainkan sebuah aksi penyelamatan kebudayaan. Buku-buku karya beliau kini menjadi tambatan utama bagi guru dan siswa dalam menyusun naskah pertunjukan di panggung perlombaan.

Mengamati penampilan para peserta dari sudut pandang kajian teater pertunjukan, Marturi menyajikan persinggungan bentuk (intersection of form) yang sangat kaya.

Secara etnohistoris-etnografis, Marturi murni/klasik adalah seni tutur tunggal (solo performance) bercorak chanted epic. Parturi sejati masa lalu adalah maestro multitalenta yang menuturkan cerita berbalut nada Ungut-ungut atau Onang-onang sambil meniup Tulila/suling sendiri. Pada panggung festival hari ini, Marturi bergeser menjadi “teater mini kelompok” (umumnya 5 orang) berkonsep frame story, di mana penutur berinteraksi langsung dengan karakter pendengar di panggung.

Bentuk Marturi sejatinya sejajar dengan tradisi teater tutur Nusantara lainnya, seperti Kentrung di Jawa Tengah, Bakaba/Rabab di Minangkabau, atau Mendu di Riau. Kesemuanya mengandalkan fleksibilitas vokal, ritme lisan, dan kehadiran pencerita sebagai poros utama pertunjukan.

Secara keaktoran, ketika para pelajar memerankan “tokoh tua” atau Opung, mereka menggunakan pendekatan mimesis dan penghayatan emosi—mirip dengan dasar-dasar method acting dalam teater modern. Namun di sisi lain, tatkala penutur mendadak keluar dari karakter untuk menyapa penonton atau melakukan umpasa, hadir estetika alienation effect khas Bertolt Brecht: kesadaran penuh bahwa panggung itu adalah ruang cerita, bukan realitas yang sebenarnya.

Melihat antusiasme ratusan pelajar yang bertanding hingga larut malam, ada satu hal penting yang harus ditegaskan kepada Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal:
Pelestarian tradisi tidak boleh berhenti sebatas selebrasi lomba tahunan
Jika Pemkab Madina sungguh-sungguh ingin menjaga roh seni tradisi ini agar tidak mati tergerus zaman, pemerintah harus mau berkorban lebih besar lagi.
Pelajar dan guru pembina tidak boleh dibiarkan belajar secara autodidak menjelang hari perlombaan saja.

Pemkab Madina melalui dinas terkait harus memfasilitasi workshop keaktoran, pelatihan vokal Ungut-ungut, dan teknik penggarapan naskah teater tutur secara berskala dan berkala ke sekolah-sekolah di seluruh kecamatan. Dukungan anggaran dan ruang latihan yang representatif adalah bentuk pengorbanan nyata yang ditunggu oleh para seniman dan generasi muda Madina.

Meskipun terdapat pergeseran bentuk dari Marturi klasik yang sarat senandung solo menuju Marturi panggung festival, esensinya dasar tetap hidup: menyampaikan nilai moral, etika, dan keagungan budaya Mandailing. Dengan pendampingan materi dan pelatihan teater yang lebih terstruktur dari pemerintah, Marturi tidak hanya akan menjadi pemenang di panggung lomba, tetapi juga menjadi tuan rumah di tanah kelahirannya sendiri.

Penulis : HSBM. Hibban