Gerakan Deli Serdang Mengaji: Membangun Pondasi Keimanan, Menuju Deli Serdang yang Kuat, Sehat dan Berkarakter

Madinapos.com, Deli Serdang – Kemajuan sebuah daerah tidak semata-mata diukur dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni kualitas manusia yang menjadi penggeraknya.

‎Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, dan berbagai tantangan kehidupan generasi muda, pembangunan karakter menjadi bagian penting yang tidak boleh dikesampingkan. Karena itu, Gerakan Deli Serdang Mengaji memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca Al-Qur’an.

‎Gerakan ini pertama kali diluncurkan oleh Bupati Deli Serdang dr. H. Asri Ludin Tambunan pada acara penutupan MTQ ke-59 Tingkat Kabupaten Deli Serdang Tahun 2026, 9 Mei 2026. Ini dapat menjadi sebuah ikhtiar untuk membangun manusia Deli Serdang yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kekuatan karakter.

‎Hal tersebut sejalan dengan pandangan Bupati Deli Serdang dr. H. Asri Ludin Tambunan yang menegaskan bahwa Gerakan Deli Serdang Mengaji tidak berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi harus mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

‎“Gerakan Deli Serdang Mengaji bukan hanya tentang membaca Al-Qur’an, tetapi bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin generasi muda Deli Serdang memiliki ilmu pengetahuan, akhlak yang baik dan karakter yang kuat.”Ucap Bupati

‎Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Deli Serdang saat berkunjung ke Percut Sei Tuan, Minggu (24/8/2026).

‎Bukan Sekadar Mengaji

‎Jika dimaknai secara lebih luas, Gerakan Deli Serdang Mengaji sesungguhnya berbicara tentang bagaimana Al-Qur’an menjadi sumber nilai dalam membentuk perilaku masyarakat.

‎Mengaji berarti belajar. Belajar membaca, memahami, menghayati, kemudian mengamalkan.

‎Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, menghormati orang tua, menjaga lingkungan serta menjauhi perilaku yang merusak diri dan orang lain merupakan bagian dari karakter yang sangat dibutuhkan dalam membangun daerah.

‎Sebab, daerah yang kuat tidak hanya membutuhkan gedung yang kokoh dan jalan yang mulus. Daerah juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas.

‎Apa artinya pembangunan berjalan cepat jika karakter manusianya rapuh?

‎Apa artinya teknologi semakin maju jika generasi mudanya kehilangan arah?

‎Karena itu, membangun pondasi keimanan sesungguhnya adalah bagian dari investasi jangka panjang bagi masa depan Deli Serdang.

‎Membentuk Generasi yang Tidak Hanya Cerdas, Tetapi Berakhlak

‎Generasi muda adalah wajah Deli Serdang di masa depan. Mereka yang hari ini duduk di ruang-ruang belajar, masjid, madrasah dan lingkungan masyarakat, kelak akan menjadi pemimpin, pengusaha, profesional, aparatur, guru, petani, tenaga kesehatan dan berbagai profesi lainnya.

‎Mereka akan menentukan seperti apa Deli Serdang beberapa dekade mendatang.

‎Maka, membekali mereka dengan ilmu pengetahuan saja belum cukup. Kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan akhlak.

‎Gerakan Deli Serdang Mengaji dapat menjadi ruang untuk mempertemukan keduanya: ilmu yang mencerdaskan dan iman yang mengarahkan.

‎Di sinilah pentingnya pesan Bupati Asri Ludin Tambunan. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi nilai-nilainya harus hadir dalam kehidupan.

‎Dari Masjid, Keluarga dan Lingkungan

‎Gerakan ini juga tidak seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah semata.

‎Keluarga memiliki peran utama. Masjid menjadi ruang pembinaan. Guru dan para ustaz menjadi pendamping. Lingkungan masyarakat menjadi tempat praktik nilai-nilai kebaikan.

‎Pemerintah hadir untuk menggerakkan, memfasilitasi dan memperkuat ekosistem tersebut.

‎Dengan demikian, Gerakan Deli Serdang Mengaji bukan sekadar program seremonial, melainkan sebuah gerakan bersama untuk membangun budaya masyarakat yang berilmu, beriman dan berakhlak.

‎Sebab karakter tidak lahir dalam sehari. Ia dibentuk dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

‎Membangun Deli Serdang dari Manusianya

‎Pada akhirnya, pembangunan daerah adalah pembangunan manusia.

‎Jalan dapat diperbaiki. Gedung dapat dibangun. Teknologi dapat diperbarui. Tetapi semua itu membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya dengan baik dan bertanggung jawab.

‎Karena itu, “Membangun Pondasi Keimanan, Menuju Deli Serdang yang Kuat dan Berkarakter” bukan sekadar slogan.

‎Ia adalah sebuah gagasan bahwa pembangunan Deli Serdang harus berjalan secara utuh: membangun fisik sekaligus membangun manusia.

‎Dari Al-Qur’an kita belajar nilai, Dari nilai kita membentuk karakter,Dari karakter lahir generasi yang kuat.

‎Karena itu, GDSM adalah sebuah investasi jangka panjang.
‎Investasi untuk membangun manusia.
‎Investasi untuk membentuk generasi.
‎Investasi untuk masa depan Deli Serdang.

‎Sebab bangunan fisik dapat berdiri kokoh karena fondasinya kuat. Demikian pula sebuah daerah akan menjadi kuat apabila manusianya memiliki fondasi iman dan karakter yang kuat.

‎Dan dari generasi yang kuat, akan lahir Deli Serdang yang maju, berakhlak dan berkarakter. (RHy).