Umrah Impian Masyarakat Madina, Jangan Salah Memilih Travel

Oleh: Rani Ismil Hakim, M. Pd (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri/STAIN Mandailing Natal,Prodi Bahasa Arab)

Madinapos.com, Panyabungan – Ada impian yang bagi sebagian masyarakat Mandailing Natal tidak berhenti pada keinginan, tetapi menjadi doa yang terus diulang: suatu hari bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Bagi masyarakat Madina, umrah bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, melainkan perjalanan hati. Ada yang menabung dari hasil bertani, berdagang, mengajar, atau menjadi pegawai selama bertahun-tahun, demi memenuhi kerinduan menuju Baitullah.

Di tengah kehidupan masyarakat yang dekat dengan pesantren, masjid, dan majelis taklim, keinginan menunaikan umrah adalah sesuatu yang wajar. Namun, semakin tinggi animo masyarakat untuk berumrah, semakin tinggi pula kebutuhan untuk meningkatkan kewaspadaan. Sebab perjalanan menuju Tanah Suci tidak hanya membutuhkan niat yang tulus dan biaya yang cukup, tetapi juga pengetahuan — karena niat baik harus disertai ikhtiar yang baik.

Ketika Umrah Menjadi Impian Banyak Orang.
Mandailing Natal memiliki kehidupan keagamaan yang kuat, dengan tradisi pesantren yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam suasana seperti itu, sosok ulama, ustadz, dan tokoh agama memiliki posisi penting — rekomendasi mereka kerap menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih travel umrah. Ini sesuatu yang positif, sebab tidak semua calon jamaah memahami seluk-beluk penerbangan, visa, hotel, dan ketentuan penyelenggaraan umrah. Namun ada satu hal yang perlu dibangun bersama: kepercayaan tidak boleh menghilangkan sikap kritis.

Tetap ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah travel tersebut benar-benar memenuhi seluruh persyaratan yang harus dipastikan oleh calon jamaah? Di sinilah pentingnya literasi masyarakat.

Jangan Memilih Travel Hanya Karena “Kata Orang”
Salah satu karakter masyarakat kita adalah kuatnya hubungan sosial. Kita terbiasa mempercayai orang yang kita kenal. Jika seorang kerabat sudah pernah menggunakan travel tertentu dan merasa puas, kita cenderung mengikuti. Tidak ada yang salah dengan rekomendasi — masalahnya muncul ketika rekomendasi itu menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Sebab kondisi seseorang bisa berbeda dengan orang lain: jadwal penerbangan yang lancar bagi satu rombongan belum tentu sama bagi rombongan berikutnya, dan hotel yang didapat seseorang bisa berbeda dengan yang ditawarkan kepada kita.

Karena itu, prinsip sederhananya adalah rekomendasi boleh didengar, tetapi legalitas dan pelayanan tetap harus diperiksa. Jangan karena travel direkomendasikan orang dekat, kita kemudian menyerahkan uang tanpa membaca perjanjian dan memastikan fasilitas yang dijanjikan.

Jangan Tergoda Harga Murah
Ada satu godaan yang hampir selalu muncul ketika memilih travel: harga. “Yang ini lebih murah.” “Yang itu selisihnya beberapa juta.” “Kalau mendaftar sekarang dapat harga khusus.” Kalimat-kalimat seperti ini mudah menarik perhatian.

Bagi masyarakat yang harus menabung bertahun-tahun, harga tentu penting. Tetapi perjalanan umrah terdiri dari banyak komponen: penerbangan, akomodasi, transportasi, konsumsi, visa, pembimbing, dan manasik. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan “Berapa harganya?”, melainkan: “Apa yang saya dapatkan dengan harga tersebut?”

Semangat inilah yang menjadi penekanan dalam kampanye “5 Pasti Umrah” dari Kementerian Agama: jangan mudah tergiur harga murah, pastikan dulu kejelasan layanan yang akan diterima. Harga murah tidak otomatis berarti travel bermasalah, sebagaimana harga mahal juga tidak otomatis menjamin pelayanan terbaik. Yang harus diperiksa adalah kewajaran harga dibandingkan layanan yang dijanjikan.

Mengenal Kembali “5 Pasti Umrah”
Untuk membantu masyarakat agar tidak salah memilih, Kementerian Agama telah lama menyosialisasikan prinsip “5 Pasti Umrah”. Prinsipnya sederhana, tapi penting untuk selalu diingat.

Pertama, pastikan travelnya berizin. Pastikan penyelenggara merupakan PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) resmi — jangan hanya percaya pada spanduk, brosur, atau pengakuan seseorang. Uang yang akan disetorkan bukan uang kecil, jadi jangan sungkan bertanya langsung kepada pihak terkait mengenai status legalitas travel tersebut.

Kedua, pastikan jadwal dan penerbangannya. Jangan puas dengan kalimat “Insyaallah berangkat bulan depan” — tanyakan tanggal keberangkatan, maskapai, nomor penerbangan, apakah langsung atau transit, serta jadwal kepulangan. Ini penting terutama bagi jamaah lanjut usia.

Ketiga, pastikan harga dan paket layanannya. Baca rincian paket dan pastikan hal berikut sebelum membayar:
Apa saja yang termasuk dalam biaya — tiket, transportasi, konsumsi, manasik, dan pembimbing
Bagaimana aturan jika terjadi perubahan jadwal atau pembatalan
Apakah ada biaya tambahan di luar paket
Simpan pula kuitansi, perjanjian, dan brosur paket sebagai dokumen pendukung.

Keempat, pastikan hotelnya. Jangan hanya bertanya “hotel bintang berapa”, tapi juga “di mana hotelnya” — sebab bagi jamaah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik, jarak hotel dari masjid bukan persoalan kecil.

Kelima, pastikan visanya. Jangan sampai tiket sudah tersedia dan koper sudah dipersiapkan, tetapi visa belum jelas. Jamaah berhak mengetahui status dokumen perjalanan mereka, bukan menganggapnya sepenuhnya urusan travel.

Peran Ulama dan Ustadz: Bukan Sekadar Merekomendasikan
Dalam masyarakat Madina yang religius, ulama dan ustadz mempunyai posisi strategis. Karena itu, menurut saya, peran mereka dalam persoalan umrah seharusnya tidak berhenti pada memberikan rekomendasi travel, tetapi juga menjadi pendidik literasi jamaah.
Jika ada yang bertanya tentang travel, jangan hanya dijawab “Travel itu bagus, silakan ikut.” Akan lebih baik jika diarahkan:
“Pastikan dulu izinnya. Periksa paketnya. Tanyakan hotelnya. Pastikan visanya. Baca perjanjiannya.”
Di sinilah budaya pesantren juga bisa mengambil peran — bukan hanya membangun pemahaman keagamaan, tetapi juga kesiapan menghadapi realitas perjalanan ibadah.

Keluarga Juga Harus Ikut Memeriksa
Umrah bukan hanya urusan orang yang berangkat. Dalam banyak keluarga di Madina, anak-anak ikut membantu biaya, mengurus dokumen, hingga mengantar orang tua ke bandara. Sudah semestinya mereka juga ikut memeriksa travel — terutama jika yang berangkat adalah orang tua yang sudah lanjut usia. Jangan biarkan mereka mengurus semuanya sendiri hanya karena tawaran datang dari orang yang dikenal. Karena Menjaga orang tua dari risiko perjalanan juga merupakan bentuk bakti.

Jangan Takut Bertanya
Ada kebiasaan yang perlu kita ubah: sungkan bertanya karena travel ditawarkan oleh orang dekat — ustaz, kerabat, atau teman. Padahal bertanya bukan berarti tidak percaya. Bertanya adalah bentuk kehati-hatian, dan travel yang profesional semestinya tidak keberatan memberikan penjelasan yang jelas. Jika ada sesuatu yang belum jelas, tanyakan. Jika ada perjanjian, baca. Jangan menunggu sampai persoalan muncul baru mencari jawaban.

Pada akhirnya, memilih travel umrah bukan sekadar memilih biro perjalanan. Ada amanah besar di dalamnya — tabungan bertahun-tahun, doa orang tua, harapan keluarga, dan kerinduan melihat Ka’bah.

Karena itu, masyarakat Madina yang memiliki semangat religius tinggi juga perlu memiliki kecerdasan dalam memilih penyelenggara perjalanan ibadah. Jangan sampai semangat beribadah membuat kita terburu-buru, kepercayaan kepada seseorang membuat kita lupa memeriksa, atau harga murah membuat kita mengabaikan kewajaran layanan.

Kita boleh percaya kepada orang lain, mengikuti rekomendasi keluarga, mendengarkan nasihat ustaz. Tetapi pada akhirnya, kita tetap harus melakukan verifikasi — sebab tawakal tidak berarti meninggalkan ikhtiar.

Maka bagi masyarakat Mandailing Natal yang sedang menabung untuk berangkat ke Tanah Suci, pesannya sederhana:
Pastikan travelnya. Pastikan jadwal dan penerbangannya. Pastikan harga dan paket layanannya. Pastikan hotelnya. Pastikan visanya.

Lima hal ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi pembeda antara perjalanan yang penuh ketenangan dengan perjalanan yang penuh kekhawatiran.

Umrah adalah impian — bagi sebagian orang, impian yang baru bisa diwujudkan setelah puluhan tahun menabung. Jangan biarkan impian itu rusak hanya karena kita kurang teliti memilih jalan menuju ke sana. Niat suci menuju Tanah Suci harus dibarengi ikhtiar yang cerdas.

Sebab masyarakat Madina tidak hanya perlu menjadi masyarakat yang semangat beribadah, tetapi juga masyarakat yang cerdas, kritis, dan terlindungi dalam menjalankan ibadahnya.