Madinapos.com, Panyabungan – Dua bulan lagi, aroma tanah basah setelah hujan sore hari akan berganti dengan aroma yang lebih magis wangi tumis bawang dari dapur tetangga dan harum pandan dari panci kolak yang mendidih. Ramadhan segera tiba. Namun, bagi kita yang tumbuh di dekade 90-an, kedatangan bulan suci selalu membawa serta “penumpang gelap” bernama rindu.
Rindu pada sebuah masa di mana kebahagiaan tidak diukur dari megahnya meja makan, melainkan dari seberapa riuh suasana kampung saat bedug dipukul.
Suara-Suara yang Hilang
Di tahun 90-an, Ramadhan di kampung adalah tentang suara. Tidak ada alarm ponsel yang canggih, yang ada hanyalah rombongan anak muda yang berkeliling membawa kaleng biskuit bekas dan galon air, berteriak “Sahur! Sahur!” dengan ritme yang berantakan namun tulus.
Kita ingat betul rasanya terbangun dengan nyawa yang belum genap, dipaksa menyuap nasi hangat dan telur dadar sambil menonton acara komedi di televisi tabung yang gambarnya kadang bersem. (Hamzah)
