Antisipasi Krisis Pendidikan di Era Digital, Prodi MPI STAIN Madina Gelar Diskusi Ilmiah

Madinapos.com, Panyabungan – Di tengah pesatnya arus informasi dan disrupsi digital saat ini, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan reputasi yang kian kompleks. Menyadari urgensi tersebut, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal (Madina) menggelar kegiatan Diskusi Ilmiah interaktif bertajuk “Manajemen Komunikasi Krisis di Madrasah: Studi Kasus Penanganan Disinformasi dan HOAKS pada Lembaga Pendidikan Islam di Era Digital”.

Kegiatan akademik yang sarat akan wawasan strategis ini dilangsungkan pada Rabu, 16/9/2026, bertempat di ruang kuliah Gedung Baru STAIN Madina. Acara ini diikuti dengan antusias oleh puluhan orang mahasiswa Prodi MPI semester 1 dari Kelas A dan B. Kehadiran para mahasiswa baru ini menunjukkan tingginya semangat mereka dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kependidikan profesional di masa depan.

Turut hadir mendampingi jalannya acara, Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Dr. H. Ahmad Asrin, S.Ag, M.A., bersama beberapa dosen dilingkungan Prodi MPI yang ikut memberikan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas keilmuan mahasiswa.

Mengupas Tuntas Anatomi Krisis dan Strategi Tabayyun
Diskulsi Ilmiah ini menghadirkan narasumber kompeten, yaitu Dr. Marlina, M.A., yang merupakan Dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam. Dalam pemaparannya, Dr. Marlina mengupas secara mendalam bagaimana disinformasi dan hoaks kerap menyasar sektor pendidikan Islam melalui isu-isu sensitif.

Berdasarkan materi yang dipaparkan, anatomi krisis di madrasah seringkali bermula dari tiga celah utama:
Pertama, Isu Kurikulum dan Agama, seperti disinformasi terkait penghapusan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab yang sempat memicu keresahan publik.

Kedua, Isu Transparansi Keuangan, berupa desas-desus penyelewengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau dana hibah operasional.

Ketiga, Isu Integritas Pengelola, seperti tuduhan radikalisme atau pelanggaran norma moral oleh civitas akademika di media sosial.

Dr. Marlina menegaskan bahwa di era algoritma media sosial saat ini, narasi hoaks dapat berkembang secara eksponensial dalam hitungan jam. Oleh karena itu, madrasah wajib memahami konsep “Golden Period” (Periode Emas 24 Jam Pertama) dalam merespons krisis. Keterlambatan memberikan klarifikasi dapat berisiko membentuk opini negatif permanen di tengah masyarakat, yang pada akhirnya menurunkan tingkat kepercayaan wali murid serta berdampak langsung pada penurunan jumlah pendaftaran peserta didik baru (PPDB).

Sebagai solusi taktis, narasumber memperkenalkan strategi penanganan berbasis Tabayyun (verifikasi fakta secara Islami dan ilmiah). Strategi ini mencakup:
Verifikasi Data Internal, yakni mengumpulkan bukti faktual dan dokumen sah sebelum merespons ke publik.

Juru Bicara Tunggal (Single Spokesperson), untuk menghindari simpang siur informasi.

Multi-Channel Counter Messaging, memanfaatkan saluran digital yang dinilai paling efektif berdasarkan analisis efektivitas kanal, di mana WhatsApp Group Wali Murid menempati urutan tertinggi efektivitasnya (92%), disusul oleh Media Sosial Resmi seperti Instagram/Facebook (85%), Website & Portal Berita (68%), hingga Surat Edaran Cetak (45%).

Tiga Fasa Manajemen Krisis, yang meliputi fasa pra-krisis (pembentukan Crisis Management Team), tanggap krisis, hingga pasca-krisis (PR Recovery).

Relevansi dengan Mahasiswa Prodi MPI sebagai Calon Pengelola Lembaga Pendidikan
Pelaksanaan kegiatan ini dinilai sangat krusial bagi mahasiswa Prodi MPI. Sebagai calon tenaga kependidikan profesional dan calon pengelola lembaga pendidikan di masa depan, mahasiswa MPI dituntut tidak hanya cakap dalam urusan administratif internal sekolah, tetapi juga harus memiliki kepekaan tinggi terhadap manajemen komunikasi eksternal dan ketahanan institusi (resilience).

Tantangan di era digital menuntut pengelola pendidikan untuk adaptif terhadap literasi digital, mampu membina kemitraan yang baik dengan media, serta menjaga transparansi layanan publik agar madrasah tetap tangguh dan kredibel menghadapi disrupsi informasi.

Sesi pemaparan materi kemudian dilanjutkan dengan agenda diskusi dan tanya jawab. Para peserta menunjukkan antusiasme yang luar biasa dengan melontarkan berbagai pertanyaan kritis seputar cara menghadapi kepanikan wali murid di grup WhatsApp hingga langkah hukum yang tepat dalam meredam fitnah digital terhadap lembaga pendidikan.

Melalui kegiatan ini, Prodi MPI STAIN Madina berharap para mahasiswa mampu menginternalisasi nilai-nilai kepemimpinan strategis, siap menghadapi kompleksitas dunia pendidikan modern, serta mampu menjaga marwah dan reputasi lembaga pendidikan Islam dari ancaman krisis informasi di masa depan.

Di akhir acara Ketua Prodi MPI, Dr. H.Ahmad Asrin, S.Ag, M.A mengharapkan agar para peserta tetap bersemangat dalam mengikuti sesi-sesi berikutnya dari kegiatan diskusi Ilmiah yang diselenggarakan Prodi MPI STAIN Madina, diringi ucapan terimaksih kepada narasumber yang sangat kredibel.(R-Adnan)