Petani di Madina Harapkan Distributor Pupuk Bersubsidi Lokal: Lebih Efektif dan Mudah Dikoordinasikan

Madinapos.com, Panyabungan – Sejumlah kelompok tani di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyuarakan harapan agar penyaluran pupuk bersubsidi ke kios-kios pengecer di wilayah mereka ditangani oleh distributor lokal. Para petani menilai, keberadaan distributor yang berkantor di daerah sendiri dinilai jauh lebih efektif untuk memperlancar distribusi dan mengantisipasi kendala di lapangan

Hal ini terungkap melalui rapat koordinasi lintas sektoral yang dilaksanakan di MDTA Desa Roburan Lombang Kecamatan Panyabungan Selatan, Rabu (21/10).

Menurut pengakuan sejumlah kelompok tani, kehadiran distributor lokal memberikan kemudahan komunikasi dan koordinasi yang lebih cepat. Jika terjadi masalah atau keterlambatan, petani maupun pemilik kios dapat langsung mendatangi kantor atau menghubungi pihak distributor tanpa hambatan jarak.

” Kalau distributornya dari lokal sini, jauh lebih efektif. Kantornya ada di sini, jadi kalau ada apa-apa, kami mudah menghubungi dan membicarakan apapun terkait kebutuhan pupuk,” ujar salah satu perwakilan petani dilokasi.

Sebaliknya, petani menilai distributor yang berasal dari luar daerah kerap menimbulkan sejumlah kendala. Berdasarkan pengalaman musim tanam sebelumnya, koordinasi dengan distributor luar sering kali berjalan lambat dan kurang akurat.

Sebagai contoh, para petani menyoroti pengalaman dengan distributor luar seperti PT GCS dan sebelumnya Paluta Nagari, di mana kios-kios sering kali mengalami keterlambatan pengiriman pupuk. Kondisi ini dinilai sangat menyulitkan petani karena kerap tidak tepat waktu dengan masa pengolahan lahan dan musim tanam.

Melihat berbagai persoalan tersebut, masyarakat petani berharap pemerintah dan pihak berwenang seperti Distan Madina dan PT Pupuk Indonesia dapat mempertimbangkan penunjukan distributor lokal untuk menangani pupuk bersubsidi di Bumi Gordang Sambilan.

Dengan menggandeng distributor lokal, seluruh urusan rantai pasok diharapkan bisa lebih transparan, tepat waktu, dan meminimalisir potensi kelangkaan pupuk di tingkat petani. (Suaib Rizal).