Madinapos.com, Batahan – Kecamatan Batahan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyimpan potensi ekosistem mangrove yang cukup luas, yakni membentang di atas kawasan seluas 390,72 kilometer persegi. Wilayah pesisir ini mencakup 17 desa serta 1 kelurahan, yakni Kelurahan Pasar Baru Batahan, Rabu (14/10).
Kendati memiliki potensi pesisir yang besar, ketersediaan data publik mengenai mangrove di Batahan masih tergolong minim jika dibandingkan dengan wilayah pesisir lainnya seperti Kecamatan Natal. Padahal, kawasan ini menghadapi tantangan lingkungan yang cukup kompleks.
Upaya pemulihan kawasan pesisir di Batahan sebenarnya bukan tanpa langkah. Pada tahun 2023 lalu, Kodim 0212/Tapsel bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Madina sempat menggelar penanaman mangrove serentak secara nasional. Khusus di wilayah Madina, termasuk titik pesisir Batahan dan Natal, ditanam ratusan batang pohon mangrove guna mencegah abrasi pantai.
“Banyak manfaat mangrove, salah satunya mencegah abrasi pantai,” ujar Dandim saat pelaksanaan penanaman kala itu.
Namun, kondisi fisik dan sosial di lapangan masih menyisakan tantangan besar. Karakteristik lahan di Batahan didominasi oleh tanah podsolik merah kekuningan serta litosol. Wilayah ini juga dilintasi oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Batahan yang kerap meluap dan memicu banjir.
Di sisi lain, kawasan pantai setempat yang memiliki garis pantai landai berpasir putih (seperti di Pulau Tamang) kini sangat rawan mengalami abrasi. Kondisi tersebut diperparah oleh alih fungsi lahan mangrove yang banyak dibuka untuk keperluan tambak dan perkebunan kelapa sawit. Selain itu, dari total 4.692 Kepala Keluarga (KK) di wilayah tersebut, baru sekitar 22 persen yang aliran listriknya terhubung, sehingga pengawasan dan penjagaan kelestarian mangrove secara mandiri oleh masyarakat masih tergolong lemah.
Mengingat kondisi lumpur yang cukup dalam serta hempasan ombak yang agak kuat di pesisir Batahan, para pemerhati lingkungan mengingatkan agar warga atau instansi tidak menanam buah mangrove secara langsung ke lokasi karena tingkat kegagalannya mencapai 70 hingga 80 persen.
Berdasarkan karakteristik lahan tersebut, metode semai dinilai jauh lebih efektif dengan tingkat keberhasilan mencapai 60 hingga 80 persen, di antaranya:
_Menggunakan jenis Rhizophora mucronata atau Rhizophora apiculata (bakau besar atau kecil) yang diambil dari pohon induk berusia di atas 10 tahun. Propagul (buah mangrove) dikumpulkan pada rentang bulan September hingga Maret.
_Masukkan lumpur sekitar ke dalam polybag, lalu simpan di tempat teduh selama 5 hingga 7 hari menggunakan karung goni basah guna menghilangkan aroma yang disukai hama.
_Gali lubang sedalam 30 hingga 40 cm dengan jarak tanam 2 meter (ke belakang) kali 4 meter (ke samping). Lepas bagian bawah polybag saja, tancapkan ajir bambu sepanjang 1 meter (tancap 0,5 meter ke dalam lumpur), lalu ikat dengan tali rafia.
_Bisa juga menggunakan ruas bambu berdiameter 20 hingga 25 cm yang bagian bawahnya diruncingkan, karena dinilai lebih tahan terhadap hantaman ombak di perairan Batahan.
Melalui pemahaman karakteristik lahan serta penerapan metode penanaman yang tepat, diharapkan upaya pelestarian mangrove di Kecamatan Batahan dapat menekan laju abrasi pantai sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Mandailing Natal ke depan. (Topen).

