Madinapos.com, Panyabungan – Bupati Mandailing Natal (Madina), H. Saipullah Nasution, menyoroti penanganan kasus empat anak putus sekolah di Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan.
Dalam pidatonya pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Rabu (2/9), ia menekankan pentingnya kepedulian dan rasa empati agar anak-anak tersebut dapat kembali mengenyam pendidikan formal maupun program kesetaraan paket A, B, atau C.
Menurutnya, langkah ini penting agar mereka tidak tertinggal dalam menghadapi tantangan globalisasi yang semakin berat.
Langkah cepat langsung diambil oleh Dinas Pendidikan Madina. Kepala Dinas Pendidikan Madina, dr. Faisal Situmorang, bersama timnya telah mendatangi langsung kediaman keluarga tersebut pada Selasa (1/9/2026). Keempat anak yang mengalami putus sekolah itu masing-masing bernama Laung Pardamean (15), Sakiani (13), Paet Rahmat (11), dan Sri Ayu (8).
Dari hasil kunjungan tersebut, pemerintah daerah langsung memberikan solusi konkret dengan memastikan satu anak mulai kembali bersekolah keesokan harinya, sementara tiga anak lainnya akan segera menyusul.
Selain itu, Dinas Pendidikan turut menyerahkan bantuan lengkap untuk kebutuhan administrasi serta perlengkapan sekolah, mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga alat tulis.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan Madina mencatat angka putus sekolah jenjang SD dan SMP di Kabupaten Mandailing Natal mencapai sekitar 1.370 anak, yang disebut sebagai yang tertinggi di Sumatera Utara.
Guna mengatasi persoalan ini secara komprehensif, tim khusus dari Dinas Pendidikan telah dikerahkan sejak sebulan terakhir untuk memetakan akar permasalahan di lapangan, mulai dari kendala administrasi, dokumen orang tua, perpindahan domisili, hingga faktor ekonomi dengan target rampung dalam waktu dua pekan. (Suaib Rizal).
Madinapos.com, Panyabungan – Bupati Mandailing Natal (Madina), H. Saipullah Nasution, memberikan perhatian khusus terhadap kasus empat anak putus sekolah di Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan.
Ia menegaskan pentingnya kebangkitan, kepedulian, dan rasa empati kepada masyarakat untuk mencarikan jalan keluar agar anak-anak tersebut dapat kembali mengenyam pendidikan atau mengikuti program kesetaraan paket A, B, atau C.
Menurutnya, langkah ini krusial agar mereka siap hidup bermasyarakat dan menghadapi tantangan globalisasi yang semakin berat, mengingat tanpa pendidikan yang memadai, masyarakat dikhawatirkan akan tertinggal dan tertindas.
Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Saipullah Nasution dalam pidatonya pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Rabu (2/9).
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Madina, dr. Faizal Situmorang, mengungkapkan bahwa Kabupaten Mandailing Natal mencatat angka anak putus sekolah jenjang SD dan SMP tertinggi di Sumatera Utara, dengan jumlah mencapai sekitar 1.370 anak.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Madina telah mengerahkan tim khusus yang terdiri dari pengawas dan unsur terkait untuk melakukan pemetaan ke seluruh wilayah sejak sekitar sebulan terakhir. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan setiap anak, mulai dari kendala administrasi, dokumen orang tua, perpindahan domisili, hingga faktor ekonomi.
Dinas Pendidikan Madina menargetkan proses pendataan dan pemetaan ini rampung dalam waktu dua pekan agar pemerintah dapat segera mengambil langkah penanganan yang tepat dan solutif bagi masing-masing anak.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Madina, dr. Faisal Situmorang, bersama timnya telah mendatangi kediaman keluarga dari empat anak putus sekolah di Pidoli pada Selasa, 1 September 2026. Keempat anak tersebut adalah Laung Pardamean (15), Sakiani (13), Paet Rahmat (11), dan Sri Ayu (8).
Dalam kunjungan tersebut, pihak Dinas Pendidikan tidak hanya meninjau kondisi keluarga, tetapi juga langsung mencarikan solusi konkrit. Setelah mempelajari kebutuhan keluarga, dipastikan bahwa satu orang anak akan mulai kembali bersekolah keesokan harinya, sementara tiga anak lainnya diharapkan bisa segera menyusul dalam waktu tidak terlalu lama untuk menekan angka anak putus sekolah maupun anak yang belum mendapatkan pendidikan.
Selain itu, Dinas Pendidikan dan Sosial Madina turut memberikan bantuan untuk kebutuhan administrasi serta perlengkapan sekolah secara lengkap, mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga alat tulis. (Suaib Rizal).



