Madinapos.com, Panyabungan – sebagai wujud sinergitas dalam mendukung program Reforma Agraria tahun 2026, Kantor Pertanahan atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bekerja sama dengan PT SMGP mengadakan pelatihan penggunaan inovasi teknologi tepat guna untuk produksi primer dalam bidang pertanian.
Kegiatan program reforma agraria fase kedua ini dilaksanakan di Bagas Godang, Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi pada hari Jumat (30/10/2026) kemarin.
Hadir mewakili Kepala BPN Kabupaten Madina yaitu Kepala Seksi Penataan Pertanahan, Umriyah. Lalu kelompok tani berjumlah 100 orang, perangkat desa dan BPD. Sedangkan narasumber pada kegiatan ini yaitu Ngalim selaku koordinator pemberdayaan masyarakat PT SMGP, Muhammad Nurdin Aswardi selaku Penyuluh pada Dinas Pertanian Kabupaten Madina.
Umriyah menjelaskan, kegiatan ini adalah lanjutan program reforma agraria fase pertama yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan fase pertama pada program ini merupakan tahap awal pelaksanaan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah agar lebih adil, merata, serta memberikan kepastian hukum kepada masyarakat.

“Fase pertama sudah kita laksanakan, yaitu membantu masyarakat melakukan penataan, inventarisir serta memberikan kepastian hukum terhadap tanah mereka. Nah ini lanjutannya, yaitu pendampingan usaha subyek reforma agraria. Berhubung PT SMGP ini kita anggap concern membantu perekonomian masyarakat di bidang pertanian dan UMKM, maka kita bekerja sama memberikan dukungan untuk mengembangkan dan meningkatkan produksi pertanian melalui kegiatan pelatihan dan bantuan lainnya,” jelas Umriyah
“Tentunya kami mengucapkan terima kasih kepada PT SMGP karena bersedia membantu program ini dengan harapan kita dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” ucapnya.
Ngalim, selaku koordinator pemberdayaan masyarakat PT SMGP menjelaskan tentang penggunaan inovasi teknologi tepat guna untuk produksi primer dalam bidang pertanian.
“Peserta dalam pelatihan ini mayoritas usahanya adalah tanaman padi. Kita menjelaskan cara seleksi benih padi dengan metode garam dan telur dan pembuatan hormon alami dari rebung bambu untuk tanaman padi. Sementara penggunaan teknologi yaitu uji nutrisi pupuk kimia dan pupuk organik dengan mengunakan alat indikator lampu listrik,” jelas Ngalim
Tujuan pelatihan ini, lanjut Ngalim, untuk meningkatkan hasil produksi tanaman padi dengan bahan alami, meskipun luasan lahannya terbatas. Kemudian petani mampu memahami perbedaan antara pupuk kimia dan organik, sehingga bahan-bahan alami sebagai sumber pupuk tanaman tidak dibuang atau dibakar.
“Metode pelatihan diberikan dengan model sekolah lapangan yaitu peserta diajak langsung praktek agar mudah memahami materi yang diberikan,” tutup Ngalim. (Rel)

