Madinapos.com, Panyabungan – Apa yang terjadi jika suatu hari dentuman Gordang Sambilan masih terdengar, tetapi semakin sedikit generasi muda yang mengenal, memainkan, dan memahami makna di baliknya?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar kekhawatiran mengenai masa depan sebuah kesenian tradisional. Ia menyentuh persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan identitas budayanya ketika zaman terus berubah?
Gordang Sambilan bukan sekadar seperangkat alat musik tradisional. Bagi masyarakat Mandailing, ia merupakan bagian dari identitas budaya, sejarah, kehidupan sosial, dan ekspresi masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Gordang Sambilan bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia pada 2013 melalui SK Nomor 238/M/2013.
Pengakuan tersebut tentu penting. Namun, penetapan sebagai warisan budaya bukanlah akhir dari perjuangan pelestarian. Tantangan yang sesungguhnya justru muncul setelah pengakuan tersebut: bagaimana memastikan Gordang Sambilan tetap hidup, dipahami, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya?
Di tengah perubahan selera masyarakat, perkembangan teknologi digital, serta derasnya arus budaya populer, kesenian tradisional membutuhkan pendekatan baru. Pelestarian tidak cukup hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk dan pertunjukannya. Budaya harus diberi ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar dan nilai dasarnya.
Dalam konteks inilah ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu jalan strategis.
Gordang Sambilan perlu dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga sebagai sumber kreativitas yang mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat tanpa kehilangan identitas budayanya.
Selama ini, pembicaraan mengenai pelestarian budaya sering berhenti pada satu pertanyaan: bagaimana agar budaya tersebut tidak punah? Pertanyaan itu penting, tetapi belum cukup.
Generasi muda membutuhkan alasan untuk mencintai dan meneruskan sebuah tradisi. Jika kesenian tradisional hanya diperkenalkan sebagai sesuatu yang berasal dari masa lalu, bukan tidak mungkin ia semakin jauh dari kehidupan generasi sekarang.
Karena itu, Gordang Sambilan perlu diberi ruang untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pertunjukan Gordang Sambilan, misalnya, dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya yang lebih menarik. Seniman tradisional dapat berkolaborasi dengan generasi muda dan pelaku seni lainnya, selama kolaborasi tersebut tetap menghormati karakter serta nilai budaya Gordang Sambilan.
Teknologi digital juga dapat menjadi ruang baru untuk memperkenalkan kesenian ini. Pertunjukan, sejarah, filosofi, proses pembuatan alat musik, hingga profil para seniman dapat dikemas dalam bentuk video, podcast, fotografi, dan berbagai konten kreatif lainnya.
Dengan demikian, Gordang Sambilan tidak hanya hadir dalam acara adat atau seremonial, tetapi juga hadir di ruang digital yang setiap hari dikonsumsi generasi muda.
Di sinilah ekonomi kreatif memiliki peran penting. Kekayaan budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi sehingga menghasilkan nilai tambah.
Mandailing Natal memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan gagasan tersebut. Selain kekayaan budaya, daerah ini memiliki berbagai potensi wisata alam dan wisata berbasis masyarakat yang dapat dipadukan dengan pengalaman budaya.
Wisatawan pada masa kini tidak selalu datang hanya untuk melihat pemandangan. Mereka juga mencari pengalaman yang autentik: mengenal masyarakat lokal, menikmati kuliner khas, menyaksikan kesenian, memahami sejarah, dan merasakan kehidupan budaya suatu daerah.
Gordang Sambilan dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Bayangkan wisatawan datang ke sebuah destinasi di Mandailing Natal. Mereka tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga menyaksikan pertunjukan Gordang Sambilan, memperoleh penjelasan mengenai sejarah dan filosofinya, belajar memainkan alat musik tersebut, melihat proses pembuatannya, dan kemudian membeli produk kreatif yang dihasilkan masyarakat lokal.
Di dalam satu pengalaman wisata tersebut terdapat banyak aktivitas ekonomi.
Seniman memperoleh ruang pertunjukan. Pengrajin memperoleh pasar. Pelaku UMKM mendapatkan konsumen. Pemuda memperoleh peluang menjadi pemandu wisata, fotografer, videografer, pengelola media sosial, maupun pelaku usaha kreatif.
Inilah yang seharusnya dibangun: bukan sekadar pertunjukan Gordang Sambilan, tetapi ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perekonomian Mandailing Natal pada 2025 tumbuh sebesar 4,38 persen. Namun, struktur ekonomi daerah masih sangat didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan peternakan yang menyumbang 50,77 persen terhadap PDRB. Perdagangan besar dan eceran serta reparasi kendaraan menyumbang 13,37 persen, sedangkan industri pengolahan sebesar 10,92 persen.
Angka tersebut tentu tidak berarti sektor pertanian dan perdagangan harus ditinggalkan. Keduanya tetap merupakan fondasi penting perekonomian daerah. Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan pentingnya mencari ruang pertumbuhan ekonomi lain yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi lokal.
Ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya dapat menjadi salah satu pilihan.
Gordang Sambilan memiliki keunggulan karena ia bukan produk yang harus diciptakan dari nol. Ia telah memiliki sejarah, identitas, pelaku budaya, pengetahuan tradisional, dan komunitas pendukung. Tantangannya adalah bagaimana aset tersebut dikelola secara kreatif sehingga menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Namun, pengembangan tersebut tidak boleh berhenti pada pertunjukan.
Di balik Gordang Sambilan terdapat ekosistem yang lebih besar: pemain, pelatih, pengrajin alat musik, komunitas budaya, pelaku UMKM, fotografer, videografer, desainer, pengelola acara, pelaku pariwisata, hingga generasi muda yang dapat menjadi penghubung dengan teknologi digital.
Jika seluruh unsur tersebut dikembangkan secara bersama, maka satu warisan budaya dapat menggerakkan banyak aktivitas ekonomi.
Karena itu, pelestarian Gordang Sambilan seharusnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana mempertahankan alat musik dan pertunjukannya, tetapi juga bagaimana memperkuat orang-orang yang membuat, memainkan, mengajarkan, mendokumentasikan, dan mengembangkannya.
Di sinilah generasi muda menjadi kunci.
Pelestarian budaya akan sulit bertahan jika generasi muda hanya ditempatkan sebagai penonton. Mereka harus diberi kesempatan menjadi pelaku sekaligus pencipta.
Sekolah dan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pembelajaran seni, penelitian, kegiatan mahasiswa, proyek kreatif, maupun pengabdian kepada masyarakat. Gordang Sambilan dapat menjadi objek pembelajaran lintas bidang.
Mahasiswa ekonomi dapat mengkaji model bisnis seni tradisional. Mahasiswa pariwisata dapat merancang paket wisata budaya. Mahasiswa komunikasi dapat mengembangkan strategi branding dan pemasaran digital. Mahasiswa desain dapat menciptakan identitas visual serta produk kreatif. Sementara para seniman dan masyarakat budaya tetap menjadi sumber pengetahuan dan penjaga nilai tradisinya.
Dengan pendekatan semacam itu, Gordang Sambilan tidak hanya menjadi objek pelestarian, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, inovasi, dan kewirausahaan bagi generasi muda.
Digitalisasi juga harus menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Banyak pengetahuan budaya yang berpotensi hilang ketika tidak didokumentasikan dengan baik. Karena itu, sejarah, filosofi, teknik permainan, proses pembuatan alat musik, profil seniman, serta berbagai bentuk pertunjukan Gordang Sambilan perlu didokumentasikan secara sistematis.
Namun, digitalisasi tidak boleh berhenti sebagai arsip.
Dokumentasi tersebut harus dikemas menjadi konten yang menarik dan mudah diakses. Video pendek dapat memperkenalkan suara dan bentuk Gordang Sambilan kepada generasi muda. Video dokumenter dapat mengangkat sejarah dan nilai budayanya. Media sosial dapat digunakan untuk mempromosikan pertunjukan, komunitas, destinasi wisata, maupun produk kreatif masyarakat.
Dengan teknologi digital, budaya lokal tidak lagi dibatasi oleh batas geografis.
Seseorang yang berada di Medan, Jakarta, bahkan di luar Indonesia dapat mengenal Gordang Sambilan melalui media digital sebelum akhirnya tertarik datang ke Mandailing Natal.
Karena itu, lokalitas tidak seharusnya dipandang sebagai keterbatasan pasar. Justru identitas lokal dapat menjadi keunggulan apabila dikemas secara kreatif.
Strategi berikutnya adalah membangun festival budaya yang tidak berhenti pada seremoni.
Festival Gordang Sambilan dapat dikembangkan sebagai agenda budaya dan pariwisata yang mempertemukan seni, kreativitas, dan ekonomi masyarakat. Pertunjukan dapat dipadukan dengan pameran UMKM, kuliner khas Mandailing, kerajinan, workshop pembuatan alat musik, kelas memainkan Gordang Sambilan, kompetisi konten digital, fotografi budaya, diskusi, serta pertunjukan kolaborasi.
Dengan konsep tersebut, festival tidak hanya menghasilkan penonton, tetapi juga menciptakan transaksi ekonomi.
Wisatawan yang datang dapat menginap, menggunakan transportasi lokal, menikmati kuliner, membeli produk UMKM, memperoleh suvenir, dan mengunjungi destinasi wisata lainnya.
Festival budaya dengan demikian dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi lokal dan promosi pariwisata.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: budaya bukan sekadar komoditas.
Membawa Gordang Sambilan ke dalam ekonomi kreatif tidak berarti semua unsur budaya dapat dijual atau diubah tanpa batas. Gordang Sambilan memiliki nilai, konteks sosial, dan kedudukan budaya yang harus dihormati.
Karena itu, pengembangan ekonomi harus melibatkan masyarakat pemilik budaya dan para pelaku seni. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek pertunjukan, sementara keuntungan ekonominya justru dinikmati pihak lain.
Prinsipnya harus jelas: ekonomi kreatif harus memperkuat budaya, bukan menghilangkan maknanya.
Jika prinsip tersebut dijaga, kegiatan ekonomi justru dapat menjadi salah satu instrumen pelestarian. Pendapatan dari pertunjukan, produk kreatif, wisata budaya, dan berbagai kegiatan turunannya dapat kembali mendukung keberlangsungan komunitas, pembinaan generasi muda, dan pengembangan kesenian.
Karena itu, pemerintah daerah juga perlu mengubah pendekatan.
Dukungan terhadap Gordang Sambilan tidak cukup diwujudkan melalui penyelenggaraan acara sesekali. Pemerintah perlu membangun ekosistem yang berkelanjutan: memetakan kelompok seni dan pengrajin, memberikan pelatihan manajemen dan pemasaran, menyediakan ruang pertunjukan, mendukung digitalisasi, menghubungkan seni budaya dengan destinasi wisata, serta membuka akses pasar bagi pelaku ekonomi kreatif.
Perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat juga harus dilibatkan.
Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan fasilitas. Perguruan tinggi dapat menyediakan pengetahuan dan inovasi. Dunia usaha dapat membuka pasar. Komunitas dapat menjadi penggerak. Generasi muda dapat menjadi kreator. Sementara masyarakat budaya dan para seniman tetap menjadi penjaga nilai dan pengetahuan Gordang Sambilan.
Jika seluruh unsur tersebut berjalan bersama, pelestarian budaya tidak lagi menjadi pekerjaan satu pihak.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar tentang Gordang Sambilan bukan hanya apakah alat musik tersebut akan tetap ada sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah generasi mendatang masih memiliki alasan untuk memainkannya?
Jawabannya tidak cukup dengan romantisme masa lalu.
Kita harus menciptakan masa depan di mana menjadi pemain Gordang Sambilan tetap memberikan kebanggaan, ruang berkarya, kesempatan belajar, dan peluang ekonomi.
Gordang Sambilan telah memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Indonesia. Kini tantangannya adalah memastikan warisan tersebut benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Caranya bukan dengan membekukan tradisi.
Caranya adalah membuka ruang bagi tradisi untuk bertemu kreativitas.
Ketika Gordang Sambilan bertemu pariwisata, lahirlah pengalaman budaya. Ketika bertemu teknologi, lahirlah jangkauan baru. Ketika bertemu kreativitas anak muda, lahirlah inovasi. Dan ketika semua itu terhubung dengan UMKM serta pelaku usaha lokal, lahirlah nilai ekonomi.
Inilah yang seharusnya menjadi arah baru pelestarian budaya di Mandailing Natal.
Kita tidak hanya ingin Gordang Sambilan tetap terdengar. Kita ingin dentumannya menghidupkan kreativitas, membuka peluang ekonomi, memperkuat pariwisata, dan meneguhkan identitas Mandailing Natal.
Sebab budaya yang paling kuat bukanlah budaya yang hanya berhasil disimpan.
Budaya yang kuat adalah budaya yang mampu diwariskan, dikembangkan, dan memberi kehidupan bagi masyarakat yang menjaganya.
Oleh: Nurintan Siregar

