Launching MATRIKS, Prodi Tadris Matematika STAIN MADINA Dorong Mahasiswa Bangun Tradisi Berpikir Ilmiah

Madinapos.com, Panyabungan – Jum’at, 21 Agustus 2026 – Program Studi Tadris Matematika Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal (STAIN MADINA) meluncurkan MATRIKS (Mathematics Academic Thinking, Research, Innovation, and Knowledge Society) sebagai wadah pengembangan budaya akademik, riset, inovasi, dan nalar ilmiah mahasiswa. Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan diskusi perdana yang mengangkat tema “Menumbuhkan Tradisi Berpikir Ilmiah di Lingkungan Kampus”.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kuliah Terpadu STAIN MADINA, Jumat (21/8/2026), diikuti oleh para dosen dan mahasiswa Program Studi Tadris Matematika. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar Prodi Tadris Matematika dalam membangun ruang akademik yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga aktif membaca, berdiskusi, mengkaji, meneliti, dan menghasilkan gagasan.

Pengembangan study club ini juga tidak terlepas dari pentingnya penguatan budaya literasi dan nalar kritis di kalangan mahasiswa di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital. Era post-truth dan disrupsi informasi membuat mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa, menguji, menganalisis, dan mempertanggungjawabkan informasi yang diterima.

Semangat tersebut sejalan dengan dorongan pimpinan STAIN MADINA, Dr. H. Mara Samin Lubis, M.Ed., beserta jajaran pimpinan lainnya agar ruang-ruang diskusi ilmiah dan kegiatan akademik serupa dapat terus tumbuh di lingkungan kampus, baik dalam bentuk kegiatan formal maupun nonformal.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi Tadris Matematika, Dr. Rohman, M.Pd., yang sekaligus menjadi pemateri dalam diskusi perdana. Turut hadir Sekretaris Program Studi Tadris Matematika, Nur Hakimah, M.Pd., para dosen, serta mahasiswa Program Studi Tadris Matematika.

Dalam pemaparannya, Rohman menyampaikan bahwa setidaknya terdapat empat hal penting yang perlu menjadi perhatian sivitas akademika dalam membangun tradisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.
Pertama, perguruan tinggi harus dipahami sebagai ruang produksi ilmu pengetahuan. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat memindahkan dan mereproduksi pengetahuan lama, tetapi juga harus menjadi ruang untuk memproduksi, menguji, mengembangkan, dan mendistribusikan pengetahuan dalam rangka menjawab berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang tumbuhnya ilmu pengetahuan. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi perlu didorong menjadi pembelajar yang mampu mempertanyakan, menguji, mengembangkan, bahkan menghasilkan pengetahuan baru,” ungkap Rohman.

Kedua, pentingnya membangun nalar ilmiah dalam proses belajar. Menurut Rohman, tidak sedikit pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat diterima begitu saja tanpa melalui proses pemeriksaan dan pengujian yang memadai. Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks di tengah banjir informasi yang memungkinkan setiap orang memproduksi dan menyebarkan informasi dengan sangat cepat.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan ilmiah. Kampus perlu menjadi ruang untuk menguji berbagai informasi, anggapan, dan keyakinan yang diterima begitu saja tanpa landasan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Di tengah banjir informasi, mahasiswa tidak boleh hanya bertanya apakah sebuah informasi benar atau salah, tetapi juga perlu bertanya: apa dasar pengetahuannya, bagaimana cara memperolehnya, apa buktinya, dan sejauh mana informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Ketiga, pentingnya memahami perubahan ilmu pengetahuan melalui konsep perubahan paradigma (paradigm shift) Thomas S. Kuhn. Rohman menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak selalu berlangsung secara linear. Dalam pemikiran Kuhn, ilmu dapat berkembang melalui fase normal science, munculnya anomali, krisis, revolusi ilmiah, hingga lahirnya paradigma baru.

Menurutnya, pemahaman terhadap perubahan paradigma penting bagi mahasiswa agar tidak memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang selalu selesai dan tidak dapat dipertanyakan. Sebaliknya, ilmu berkembang melalui proses dialog, pengujian, kritik, penemuan masalah, dan pembaruan cara pandang.
Gagasan mengenai perubahan tersebut, lanjut Rohman, juga dapat ditempatkan dalam perspektif keislaman bahwa kehidupan manusia senantiasa mengalami dinamika dan perubahan. Karena itu, perubahan perlu dihadapi dengan ilmu pengetahuan agar manusia mampu membaca perkembangan zaman secara kritis dan mengarahkannya pada kemaslahatan.

Keempat, pentingnya menjaga keberlanjutan budaya ilmiah di kalangan mahasiswa. Rohman mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah sebuah kegiatan akademik diluncurkan adalah bagaimana menjaga agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni. Menurutnya, budaya ilmiah membutuhkan konsistensi, keterlibatan, dan kemauan untuk belajar bersama. Sikap apatis dan kecenderungan belajar secara individual tanpa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan perlu diubah menjadi budaya membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya.

“MATRIKS tidak boleh berhenti pada kegiatan launching. Justru setelah launching inilah pekerjaan sebenarnya dimulai. Kita ingin membangun kebiasaan akademik yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ke depan, MATRIKS akan menyelenggarakan diskusi rutin sekali dalam sepekan sebagai ruang perjumpaan akademik antara mahasiswa dan dosen. Kegiatan tersebut akan dikembangkan dalam berbagai bentuk, antara lain diskusi ilmiah, bedah buku, kajian artikel ilmiah, serta riset bersama.

Melalui kegiatan rutin tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan membaca dan berpikir kritis, menyampaikan argumentasi secara akademik, memahami hasil penelitian, serta secara bertahap terlibat dalam proses penelitian dan produksi pengetahuan.

Dengan demikian, MATRIKS diharapkan tidak sekadar menjadi sebuah organisasi atau kegiatan diskusi mahasiswa, tetapi berkembang menjadi ekosistem kecil keilmuan di lingkungan Prodi Tadris Matematika yang mempertemukan tradisi membaca, berpikir, berdiskusi, meneliti, berinovasi, dan menghasilkan karya.

Peluncuran MATRIKS menjadi langkah awal Prodi Tadris Matematika STAIN MADINA untuk membangun budaya akademik yang lebih hidup dan partisipatif. Melalui tradisi ilmiah yang dilakukan secara konsisten, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik untuk menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga memiliki keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk berpikir kritis, serta keterampilan untuk menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.(R-Adnan)