Syahrijal dan Khoirunnisah Gelar Pernikahan Adat Mandailing Penuh Haru

Madinapos.com, Panyabungan – Jarak sejauh ratusan kilometer antara Tangerang Selatan dan Panyabungan akhirnya takluk oleh ikatan suci. Kisah cinta yang bermula dari secangkir kopi dan teguran sederhana di media sosial itu kini berlabuh di pelaminan, tepatnya di Desa Huta Lombang Lubis, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.

Syahrijal Efendi Nasution dan Khoirunnisah resmi mengikat janji suci pada bulan Juni 2026 ini. Rangkaian hari bahagia tersebut tidak hanya menjadi perayaan penyatuan dua hati, tetapi juga menjadi panggung megah yang merawat keluhuran adat Mandailing di tanah kelahiran.

Air Mata Bahagia di Ujung Penantian

Suasana haru langsung menyelimuti momen pranikah dan akad. Khoirunnisah tak kuasa menahan air mata saat bersimpuh memohon doa restu kepada kedua orang tuanya. Tiga tahun lamanya pasangan ini merawat rindu dan kesabaran dalam jerat Long Distance Relationship (LDR), menjadikan momen sakral ini terasa begitu emosional.

Dengan satu tarikan napas yang mantap, kalimat ijab kabul terucap. Kata “Sah!” yang menggema di ruangan seolah menjadi pelepas dahaga atas penantian panjang yang selama ini mereka lalui.

Kemegahan Tortor dan Gordang Sambilan

Beralih dari syahdunya momen akad, resepsi pernikahan dibalut dalam kemegahan adat kebesaran Mandailing. Rona bahagia terpancar jelas dari wajah kedua mempelai, melengkapi keindahan visual acara yang diabadikan dengan sempurna hari itu.

Mengenakan balutan busana adat yang didominasi warna merah, hitam, dan emas, serta mahkota kebesaran yang bertengger anggun, pasangan ini disambut layaknya raja dan ratu sehari.

Hentakan dinamis Gordang Sambilan

berpadu dengan gemulai tarian Tortor, menyambut langkah mereka menuju singgasana pelaminan. Senyum bahagia para tamu undangan yang hadir memadati Desa Huta Lombang Lubis turut menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.

Daulat Gelar Adat: Mengemban Tanggung Jawab Baru.

Puncak kekhidmatan dari prosesi ini adalah momen penambalan gelar adat. Di hadapan para Raja-Raja Adat (Suhu, Mora, dan Anak Boru), suasana berubah menjadi sangat sakral. Orasi adat dan doa-doa terbaik (Upa-upa) dilantunkan secara bergiliran dengan penuh khidmat.
Dalam sidang adat yang agung tersebut, diumumkanlah penambalan dan pengukuhan gelar adat sebagai bentuk penghormatan sekaligus pemberian tanggung jawab baru. Adapun gelar adat yang ditabalkan adalah:
Syahrijal Efendi Nasution bergelar Mangaraja Gading
Khoirunnisah bergelar Namora Hadamean Hasayangan br Tanjung
H. Batara Guru Nasution bergelar Mangaraja Batara Guru Lombang
Nurhidayah bergelar Namora Rumondang ni Bulan Hasayangan br Pulungan
Penambalan gelar ini bukanlah sekadar seremonial belaka.

Momen ini menandai transisi menuju fase kedewasaan paripurna di mata adat. Lewat gelar kebesaran yang disematkan, mereka kini memikul amanah yang lebih besar untuk menjaga kehormatan keluarga, merawat tradisi kaum, serta menjadi panutan bagi generasi selanjutnya.

Kini, ruang dan jarak tak lagi menjadi penghalang. Rangkaian doa dan restu dari keluarga, kerabat, serta leluhur telah mengiringi langkah pertama mereka. Selamat menempuh hidup baru, semoga ikatan ini kekal membawa kebahagiaan dan menaburkan tuah bagi sesama. (Hamzah).