Mewabahnya Virus Corona di berbagai belahan dunia secara tidak langsung berdampak pada semua sektor penting Negara. Bagi para pelaku usaha tentu saja hal ini seperti bom atom yang dengan tiba-tiba membuat usahanya terguncang bahkan mengalami kerugian yang tidak sedikit apalagi mereka yang bergelut di bidang ekspor-impor. Hampir tiap negara membatasi bahkan menutup jalur masuk warga asing ke negaranya. Bagi masyarakat biasa, keadaan ini juga berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, macetnya perekonomian mikro, bahkan yang lebih parahnya lagi masyarakat mulai dirundung ketakutan menghadapi virus tersebut.
Ya, hanya dalam waktu tak lebih dari dua bulan, korban yang meninggal akibat terpapar virus tersebut sudah ribuan orang terutama di Wuhan China dan Italia. Seperti yang diwartakan tirto.id per tanggal 23 Maret 2020 total kasus Covid-19 di seluruh dunia mencapai 339.259, dengan kasus kematian tertinggi ada di Italia yaitu 5.476 korban melebihi di Kota Wuhan China yakni 3.153 kasus kematian. Kebanyakan orang mulai menjaga jarak dengan orang lain dan membatasi aktivitas di tempat keramaian sesuai himbauan pemerintah. Dunia benar-benar berduka.
Indonesia sebagai salah satu Negara yang sedang berjuang melawan virus tersebut pun tak tinggal diam. Sudah banyak korban yang meninggal dunia akibat virus tersebut. Bahkan tim medis seperti dokter, perawat dan tenaga kesehatan pun turut menjadi korban. Untuk menghadapi kondisi darurat ini, pemerintah segera tanggap dan membuat kebijakan-kebijakan agar penyebaran virus tersebut segera terhenti. Tak hanya membatasi warga negara asing yang ingin masuk ke Indonesia, tes kesehatan massal pun dilakukan untuk mengetahui orang-orang yang sudah terpapar virus tersebut dan masih banyak lagi.
Jika dalam dunia kerja pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan pekerjaan dari rumah, maka di bidang pendidikan pun pemerintah memberikan intruksi kepada seluruh lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi untuk melaksanakan pembelajaran daring (online) selama empat belas hari untuk menghindari kontak dari orang-orang yang sudah terpapar virus tersebut. Seperti yang termuat dalam portal berita KOMPAS.com untuk menekan laju penularan Virus Corona, sejumlah pemerintah daerah memberlakukan aturan belajar di rumah dan bekerja dari rumah yang diberlakukan sejak tanggal 16 Maret 2020.
Lalu apakah keputusan pemerintah sudah tepat? Tentu saja kebijakan ini tidak serta merta menuai dukungan dari masyarakat. Ada juga yang tidak mendukung kebijakan tersebut dengan berbagai alasan. Namun mereka tetap menjalankan kebijakan tersebut meskipun dengan keterpaksaan.
Pembelajaran secara daring sebenarnya sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan Indonesia. Dalam beberapa pelatihan bagi guru-guru pun sudah melakukan pembelajaran secara daring. Apakah itu efektif? Tentu saja. Pemerintah tidak perlu menyediakan anggaran tempat, biaya konsumsi, serta biaya lain-lain yang akan muncul ketika melakukan pelatihan secara konvensional. Peserta pelatihan pun cukup memberikan ulasan terhadap materi yang diberikan dengan mengirim email. Bahkan ada beberapa sekolah yang menerapkan pendidikan dari rumah (homeschooling) bagi anak-anak yang memang tidak bisa hadir di sekolah seperti murid kebanyakan.
Kini, saat Virus Corona mulai merebak, sepertinya pembelajaran daring merupakan langkah yang paling tepat. Guru/dosen dan peserta didik tetap bisa berinteraksi dengan memanfaatkan beberapa aplikasi seperti Google Classroom, Moodle, Edmodo dan masih banyak lagi. Dalam aplikasi tersebut guru/dosen bisa membuat kelas khusus yang bisa diikuti lebih dari tiga puluh peserta didik. Materi pun bisa langsung diberikan secara daring. Untuk mengetahui pemahaman peserta didik, guru/dosen bisa memberikan tugas meringkas. Siswa diminta menjelaskan poin penting apa saja yang telah dipelajari dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Bisa juga membuat pertanyaan-pertanyaan kemudian peserta didik menanggapinya melalui kolom komentar.
Selain itu, dalam aplikasi ini peserta didik pun bisa berdiskusi dengan teman satu kelas untuk membahas materi yang telah diberikan. Jadi, guru/dosen bisa tetap bisa membimbing mereka dari jauh seperti kelas offline. Bagi mahasiswa sepertinya proses belajar seperti ini akan terasa lebih menyenangkan. Tanpa harus ke kampus mereka tetap bisa mengikuti perkuliahan dan memiliki banyak waktu untuk diri sendiri bahkan hang out bersama teman-teman (tentunya jika situasi sudah aman). Namun, dalam hal penilaian tugas sepertinya dosen/guru akan sedikit kesulitan untuk membedakan mana tugas yang dikerjakan sendiri, mana yang hanya sekedar copy paste milik teman atau bahkan mereka meminta bantuan teman lain untuk mengerjakan tugas tersebut. Karena semua dilakukan secara online tanpa adanya pengawasan langsung.
Dengan pembelajaran daring ini akan membuat orangtua/anak-anak yang tadinya cuek dengan teknologi kini menjadi melek teknologi. Karena mau tidak mau setiap harinya mereka akan berurusan dengan gadget untuk mempelajari materi-materi serta tugas-tugas yang diberikan dalam setiap mata pelajaran. Selain harus melek teknologi, orangtua dan guru pun harus menyediakan dana yang tidak sedikit untuk membeli data internet selama proses pembelajaran. Ya, tuntutan pembelajaran daring ini diantaranya mereka harus selalu online, jika tidak maka proses belajar mengajar akan terhambat. Meskipun ada beberapa perusahaan penyedia layanan internet yang memberikan paket data secara cuma-cuma namun tidak semua brand itu memiliki sinyal yang bagus di setiap tempat. Jadi, penggunaan data internet pun harus menyesuaikan keberadaan sinyal di tempat tinggal mereka.
Bagi mereka yang tinggal di perkotaan, penggunaan aplikasi pembelajaran ini mungkin tidak akan menimbulkan masalah baru karena hampir setiap hari mereka bersentuhan langsung dengan gadget. Tetapi bagi mereka yang berada di pelosok desa, khususnya mereka yang tinggal di tempat-tempat yang memang belum memiliki fasilitas internet atau mungkin sudah ada internet tetapi masih susah untuk mendapatkan sinyal tentunya akan menghadapi berbagai macam permasalahan selama proses daring ini berlangsung. Ditambah lagi tidak semua orangtua/peserta didik memiliki ponsel sendiri. Jadi mau tidak mau mereka harus meminjam kepada orang lain agar tugas-tugas tersebut bisa terselesaikan.
Untuk sekolah yang memang tidak memungkinkan menjalankan proses pembelajaran daring ini, sekolah pun terpaksa mengambil kebijakan lain agar siswa tetap belajar di rumah. Namun, untuk pengumpulan tugas tersebut tidak bisa dilakukan secara online. Ya, mereka harus menunggu hingga masa yang sudah ditentukan yakni empat belas hari atau bahkan lebih sesuai intruksi dari pemerintah. Dan tugas yang mereka buat tidak berupa file yang siap dikirim via email melainkan bentuk tulisan konvensional seperti tugas rumah pada umumnya yang dikerjakan di buku tulis masing-masing.
Selain itu, peran orangtua sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran ini. Setidaknya ada empat mata pelajaran wajib yang harus dipelajari yakni Bahasa Inggris, IPA, Matematika, Bahasa Indonesia. Belum lagi banyaknya mata pelajaran lain yang ada di sekolah sesuai dengan kebijakan kurikulum yang berlaku. Semua tetap harus dikerjakan sebagai konsekuensi adanya pembelajaran daring ini. Biasanya anak-anak yang berada di jenjang sekolah dasar akan menjadi malas jika belajar di rumah. Suasana yang santai dan tidak memakai seragam mungkin jadi alasan utama mereka. Oleh sebab itu para orangtua harus memberikan pendampingan ekstra selama proses pembelajaran daring ini berlangsung.
Jika biasanya anak-anak mengerjakan PR sendiri tanpa didampingi orangtua, atau biasanya orangtua hanya mengawasi dari jauh, kini mau tidak mau orangtua harus meluangkan waktu lebih agar anak-anak mereka tidak ketinggalan pelajaran dan bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah tepat waktu. Lalu bagaimana dengan mereka yang orangtuanya sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk mendampingi proses pembelajaran ini? Anak-anak yang orangtuanya sibuk bekerja biasanya cenderung bebas, karena kurangnya pengawasan. Tak jarang dari mereka yang memilih untuk menyontek tugas dari teman sedangkan mereka sendiri asyik bermain game.
Selain itu, ada permasalahan lain yang muncul yakni beban mental anak-anak/orangtua karena harus melakukan pembelajaran daring. Biasanya anak-anak diajar oleh gurunya kini harus beralih belajar dengan orangtua. Beberapa hari ini banyak pemberitaan yang mengabarkan bahwa anak-anak mulai lelah dengan tugas yang diberikan. Mereka jenuh harus belajar di rumah dalam waktu yang cukup lama. Setiap hari mereka harus bisa mempelajari materi sendiri dengan pendampingan guru dari jarak jauh lalu mengerjakan tugas secara online. Selain itu ada kabar mengejutkan lainnya yaitu orangtua sudah mulai uring-uringan bahkan mendadak garang karena tidak terbiasa dengan materi-materi yang dipelajari oleh si anak. Apalagi mentransfer ilmu yang bentuknya tidak terlihat. Rasa jengkel, marah, kesal terkadang hinggap di hati orangtua karena si anak belum bisa memahami apa yang mereka pelajari.
Seperti yang dikabarkan oleh REPUBLIKA.CO.ID pelaksanaan daring ini hanya menambah beban bagi wali murid. Menurut Inung, salah seorang wali murid menuturkan bahwa guru lebih banyak kirim tugas melalui WhatsApp kemudian tugas dikerjakan lalu hasilnya difoto lalu kirim ke guru. Akibatnya ia harus mendampingi anaknya hingga tugas itu selesai. Inung juga meminta agar internet untuk pembelajaran digratiskan karena ia sudah kewalahan membeli kuota terus demi pembelajaran daring anaknya.
Kini, proses pembelajaran daring telah berjalan kurang lebih satu minggu, sepertinya tidak ada hambatan yang berarti selama proses pembelajaran ini berlangsung. Lalu, apakah memungkinkan jika pendidikan di Indonesia nantinya berubah menjadi pembelajaran daring? Jika memang akan diterapkan oleh pemerintah sepertinya harus ada kerjasama yang kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, orangtua bahkan penyedia layanan data internet karena semuanya memiliki keterkaitan yang erat untuk mensukseskan proses belajar seperti ini.
Pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan sebagai pemangku kebijakan harus membuat kurikulum yang baru agar sesuai dengan kondisi yang ada dan tentunya tidak memberatkan pihak sekolah ataupun pihak orangtua-siswa sebagai sasaran utama pendidikan. Dengan proses pembelajaran daring ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam rangka menghadapi tantangan di era globalisasi yang semuanya serba digital. Mau tidak mau seluruh elemen masyarakat harus bisa menguasai teknologi agar tidak tertinggal dengan negara lain. Selain itu, pemerintah pun harus menentukan kebijakan khusus agar para pelaku bisnis kuota internet tidak dengan seenaknya sendiri menentukan harga jual kepada masyarakat.
Lembaga pendidikan atau sekolah pun harus bisa mengimbangi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Tentunya peningkatan kualitas pengajar juga harus diperhatikan. Karena tidak semua guru menguasai teknologi. Masih banyak tenaga pengajar yang enggan menggunakan teknologi selama proses belajar mengajar karena mereka sendiri tidak menguasainya. Akibatnya proses belajar mengajar yang diterapkan pun masih konvensional tanpa adanya sentuhan teknologi. Biasanya mereka adalah guru-guru yang usianya sudah menginjak masa pensiun. Keinginan untuk mengupgrade kemampuan diri sepertinya tidak begitu penting karena sebentar lagi mereka akan memasuki masa pensiun. Meskipun banyak guru yang memang memiliki kompetensi untuk proses pembelajaran daring ini namun jumlahnya masih belum terlalu banyak. Jika tidak ada pelatihan-pelatihan khusus untuk meningkatkan kompetensi mengajar online, sepertinya kebijakan pemerintah akan sia-sia karena hasil dari proses pembelajaran daring ini tidak bisa maksimal.
Selain itu, peran orangtua pun tidak bisa diabaikan. Karena tugas guru yang biasanya mengawasi dan mendidik putra-putri mereka selama belajar di sekolah kini berpindah tangan kepada orangtua. Jadi, mau tidak mau orangtua harus benar-benar meluangkan waktunya demi keberhasilan putra-putrinya. Selama proses pembelajaran daring pun orangtua harus mengawasi pergaulan mereka karena akan ada perubahan mendasar dalam bersosialisasi. Anak-anak yang biasanya bermain dengan teman-teman di sekolah kini harus berinteraksi melalui gadget. Pertemanan pun berubah seolah-olah tak ada lagi dunia nyata karena semua berinteraksi dalam dunia maya.
Kini, pemerintah telah mengeluarkan edaran kepada semua jenjang pendidikan dasar mulai SD, SMP dan SMA bahwa UN 2020 resmi dibatalkan. Seperti yang termuat dalam KOMPAS.com, ujian nasional (UN) tahun 2020 resmi dibatalkan mengingat wabah Corona di Indonesia. Penegasan ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas dengan pembahasan UN pada hari Selasa, 24 Maret 2020 melalui video conference. Untuk menentukan kelulusan, penilaian terhadap siswa tetap diadakan namun pelaksanaannya dilakukan secara daring/jarak jauh. Layaknya UN, penilaian akhir semester pun akan diselenggarakan dengan cara yang sama yakni daring. Hal ini dilakukan karena situasi darurat akibat Covid-19 yang semakin memprihatinkan.
Jika pemerintah nantinya akan menerapkan proses pembelajaran daring ini meskipun Virus Corona sudah usai maka, semua pihak harus bergandengan tangan dan saling mendukung baik itu secara moril ataupun materiil demi masa depan generasi penerus bangsa. Ya, generasi yang intelektual, melek teknologi dan tentu saja bermoralkan Pancasila. Rasanya percuma jika anak-anak Indonesia memiliki keterampilan dan kecerdasan yang luar biasa tetapi tidak diimbangi dengan kecerdasan moral.
Penulis : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd. Guru Komputer SMA Negeri 1 Tambangan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Mahasiswa Pascasarjana UNP.











