Madinapos.com, Batahan – Memasuki bulan ketiga masa kontrak, proyek Pembangunan Jembatan Aek Batahan mulai memancing amarah warga. Alih-alih melihat progres konstruksi yang signifikan, lokasi proyek justru tampak seperti sandiwara visual yang lebih mirip persiapan pasar malam ketimbang proyek infrastruktur vital (12/02/2026).
Melalui hasil pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan ironis. lokasi proyek dikepung oleh berbagai baliho mentereng, mulai dari papan proyek, imbauan K3, hingga klaim CCTV 24 jam. Namun, di balik kemegahan atribut tersebut, aktivitas fisik nyaris mati suri.
Tumpukan tiang cor dan bambu yang berjejer rapi bukannya tertanam menjadi pondasi, malah terlihat seperti instalasi panggung dekoratif. Fenomena ini memicu kritik pedas dari warga sekitar yang merasa dibodohi oleh pemandangan formalitas tanpa aksi nyata.
Seperti peryataan salah satu warga Pasar Baru Batahan yang melontarkan sindiran tajam terhadap mandulnya aktivitas di lokasi. Ia menilai pihak kontraktor hanya sibuk memoles tampilan luar untuk menutupi ketiadaan progres.
” Seharusnya telinga warga sudah bising oleh deru ekskavator, bukan disuguhi pemandangan tiang yang berbaris seperti mau bikin tenda konser. Kalau begini terus, kita tunggu saja kapan konser dimulai untuk hiburan warga,” cetus Masriadi
Ketajaman kritik juga datang dari tokoh masyarakat Batahan, Sutan Syariful Alamsyah. Ia mencium aroma ketidakberesan dan khawatir proyek ini hanya akan menjadi mainan pihak-pihak tertentu dengan tameng anggaran tahun jamak (multi-years).
Sutan mengingatkan pemerintah agar tidak mengulang tragedi pembangunan Jembatan Perdamaian Baru yang terbengkalai hingga bertahun-tahun.

” Jangan jadikan proyek ini sandera kepentingan. Kami menuntut profesionalitas, rakyat butuh jembatan, bukan pameran baliho. Jika kontrak sudah berjalan tiga bulan tapi kondisi masih seperti ini, patut dipertanyakan ke mana larinya komitmen dan anggaran proyek tersebut,” tegas Sutan Syariful.
Masyarakat kini mendesak instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan audit lapangan sebelum proyek ini benar-benar menjadi monumen kegagalan berikutnya di Mandailing Natal.
” Kami mengharapkan instansi terkait agar melakukan pengawasan dan audit segara, karena ini merupakan salah satu kebutuhan vital dalam meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Topen).











