Madinapos.com, Nagajuang – Asa para petani di Desa Sayur Matua, Kecamatan Nagajuang untuk kembali mengolah sawah mulai menemui titik terang. Setelah sempat terpuruk akibat banjir besar pada November 2025 lalu, kini secercah harapan muncul seiring dengan langkah cepat Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam memulihkan lahan mereka.
Pada Minggu (04/01/2026), Bupati Madina, H. Saipullah Nasution, meninjau langsung proses normalisasi lahan persawahan dan pengerukan Sungai Aek Namora. Langkah ini diambil untuk memastikan sektor pertanian warga yang sempat lumpuh total dapat segera bangkit kembali. Di ketahui bahwa ada tujuh desa yang terdampak banjir, yaitu Banua rakyat ,Banua simanosor ,Sayur matua, Tambiski, Humbang 1, Tarutung panjang, Tambiski nauli.
Di lokasi pengerjaan, satu unit alat berat tampak bekerja ekstra mengeruk sedimen sungai dan meratakan material sisa banjir yang sebelumnya menimbun sawah-sawah produktif milik warga. Bupati Saipullah menegaskan bahwa pemulihan ini adalah prioritas utama demi menyelamatkan ekonomi rakyat.
“Kita tidak ingin membiarkan ekonomi warga stagnan terlalu lama. Normalisasi ini adalah kunci agar ketahanan pangan kita tidak terganggu dan para petani di Nagajuang bisa segera kembali turun ke sawah dengan tenang,” ujar Bupati di sela-sela peninjauannya.
Kehadiran orang nomor satu di Madina ini, yang didampingi Sekda, Anggota DPRD Dapil V, serta jajaran Camat, disambut antusias oleh para tokoh masyarakat dan pemilik lahan. Bagi warga, pengerukan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan kembalinya sumber mata pencaharian mereka yang sempat hilang diterjang bencana.
Sertu J. Hutabarat dari Koramil 12/Siabu yang turut mengawal kegiatan tersebut melaporkan bahwa situasi di lapangan berjalan sangat kondusif. Dukungan penuh dari warga terlihat dari bagaimana mereka bahu-membahu mendampingi proses pengerjaan di lapangan bersama jajaran pemerintahan desa.
Warga Desa Sayur Matua kini berharap, dengan normalisasi yang dilakukan secara menyeluruh ini, ancaman banjir serupa tidak lagi menghantui desa mereka, sehingga musim tanam awal tahun ini dapat berjalan maksimal tanpa rasa cemas. (Hamzah).











