Madinapos.com, Panyabungan Timur – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di tingkat lokal dengan mendorong pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana/Keltana) di wilayah Kecamatan Panyabungan Timur.
Langkah ini diwujudkan melalui pelatihan pencegahan dan mitigasi bencana yang digelar oleh BPBD Madina di Aula Kantor Camat Panyabungan Timur pada Kamis (24/9). Kegiatan tersebut melibatkan kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, hingga unsur Linmas desa.
Kepala BPBD Madina, Mukhsin Nasution, menegaskan bahwa pembentukan Destana merupakan strategi penting untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mengenali ancaman bencana di wilayahnya masing-masing. Melalui program ini, masyarakat juga diajak mengorganisasi sumber daya yang tersedia guna menekan tingkat kerentanan dan risiko bencana.

” Destana memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan,” ujar Mukhsin.
Sementara, Camat Panyabungan Timur, Wahyu Hidayat Siregar, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki sejumlah titik rawan yang memerlukan antisipasi bersama. Ancaman tersebut meliputi banjir dan banjir bandang di sekitar aliran Sungai Aek Pohon, Aek Pagur, dan Singadodap, serta potensi tanah longsor mengingat sebagian besar wilayah berada di lereng gunung dan perbukitan, ditambah ancaman cuaca ekstrem dan kebakaran hutan.
Menanggapi kerawanan tersebut, BPBD Madina mencatat saat ini baru terbentuk 16 Destana yang tersebar di berbagai wilayah rawan bencana. Jumlah ini dinilai masih terbatas dibandingkan total keseluruhan desa dan kelurahan di Kabupaten Madina. Oleh karena itu, BPBD Madina berharap dukungan penuh dari pemerintah kabupaten, termasuk dari sisi penganggaran, agar program penguatan dan perluasan Destana dapat menjangkau lebih banyak wilayah.
Dalam kegiatan pembentukan Destana ini, BPBD Madina turut mendorong terbentuknya Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) serta memaparkan sejumlah program prioritas, antara lain:
_Edukasi kebencanaan intensif bagi warga
_Pemetaan risiko secara partisipatif untuk mengidentifikasi wilayah rawan, kelompok rentan, fasilitas penting, jalur evakuasi, dan titik kumpul.
_Simulasi dan latihan lapangan berkala
Penguatan kapasitas relawan desa.
Melalui serangkaian program tersebut, BPBD Madina menargetkan tersedianya data risiko yang akurat, meningkatnya pemahaman masyarakat, serta semakin kuatnya koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi kebencanaan.
Pelatihan mitigasi ini turut menghadirkan sejumlah narasumber penting, seperti Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sumatera Utara Manutur Parulian Naibaho, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Madina Irsal Paridia, Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Kerja Sama Antar-Lembaga Penanganan Bencana BPBD Madina Hafni, serta Camat Panyabungan Timur Wahyu Hidayat Siregar. (Suaib Rizal).

