Madinapos.com, Panyabungan – Di tengah sorotan maraknya kasus bunuh diri yang belakangan mengguncang Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan membunyikan alarm pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Melalui seminar bertajuk “Kenali Burnout, Cegah Bunuh Diri pada Tenaga Kesehatan”, rumah sakit pelat merah ini mengajak para tenaga medis sekaligus masyarakat luas untuk membuang jauh-jauh stigma negatif terkait gangguan mental.
Agenda yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) tersebut berlangsung di Aula Lantai II RSUD Panyabungan, Senin (5/10/2026), mulai pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini merupakan respons cepat pihak manajemen atas instruksi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mengenai penguatan kesadaran kesehatan jiwa.
Direktur RSUD Panyabungan, Evi Desvita, S.K.M., M.K.M., secara lugas mengingatkan bahwa tenaga kesehatan (nakes) yang berada di garda terdepan tidak kebal terhadap tekanan mental dan risiko kelelahan kerja ekstrem (burnout).
“Tingginya beban kerja memicu stres berat, ditambah lagi fenomena bunuh diri yang belakangan kerap terjadi di Madina. Sebagai penolong, jangan sampai nakes kita justru ikut tumbang karena stres,” tegas Evi di hadapan jajaran nakes dan manajemen rumah sakit.
Ia menambahkan, forum ini dirancang agar lingkungan medis memiliki rasa empati yang lebih kuat antar-rekan sejawat. “Kita harus lebih peka dan saling menjaga agar suasana kerja tetap aman dan nyaman. Mawas diri adalah kunci,” ujarnya.
Pesan senada ditekankan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Panyabungan, dr. M. Putra Mahmuddin Lubis, M.Ked(KJ), Sp.KJ, yang hadir membedah persoalan kesehatan mental dari kacamata medis. Menurutnya, masyarakat kerap terjebak anggapan keliru bahwa sehat hanya diukur dari fisik semata.
“Kesehatan itu paket lengkap: fisik dan mental harus seimbang. Kalau kondisi psikis terganggu, produktivitas dan aktivitas hidup sehari-hari pasti ikut lumpuh,” jelas dr. Putra.
Menutup paparannya, dr. Putra mengajak warga Madina untuk tidak lagi memandang psikiatri sebagai hal yang menakutkan atau memalukan.
“Jangan malu untuk datang dan berobat ke poli psikiatri. Menjaga mental adalah hak sekaligus kewajiban kita masing-masing. Jangan tunggu sampai kondisi memburuk baru mencari pertolongan,” pungkasnya. (Hamzah).

