Madinapos.com, Panyabungan – Angin siang di Kelurahan Dalan Lidang hari ini, Jumat (16/01/2026), terasa membawa aroma yang berbeda. Bukan sekadar hawa tropis Mandailing yang akrab, melainkan ada semilir keberkahan yang menyusup di sela-sela riuhnya tabuhan hadroh.
Di kediaman Buya Ibrahim Zannun Lubis, sebuah narasi cinta sedang dituliskan oleh takdir—bukan dengan tinta biasa, melainkan dengan air mata syukur dan untaian doa.
Sebelum jemari saling bertaut dalam ikatan hukum, suasana mendadak hening. Nafis, pemuda santun dari Negeri Jiran, Malaysia, bersimpuh dengan keteguhan hati. Di sampingnya, Ulya Putri, permata hati A Buya Ibrahim Zannun Lubis, menunduk khidmat.
Momen paling menggetarkan jiwa terjadi saat keduanya diminta kembali melafalkan kalimat Syahadat.
“Asyhadu an laa ilaha illallah…”
Gema tauhid itu meluncur pelan namun bertenaga, seolah membersihkan udara dari ego duniawi. Di atas sajadah yang sama, mereka menegaskan bahwa sebelum mencintai mahluk, Sang Khalik adalah muara utama. Syahadat itu bukan sekadar formalitas, melainkan pondasi kokoh bahwa bahtera yang akan mereka kayuh, arahnya adalah rida Allah SWT.
Jarak ribuan kilometer yang memisahkan tanah Mandailing dan semenanjung Malaysia seketika terasa luruh. Di hadapan penghulu dan para saksi, Nafis menjabat erat tangan Buya Ibrahim. Ada getaran gugup yang manusiawi, namun tertutup oleh tekad yang surgawi.
“Saya terima nikahnya…”
Hanya dalam satu tarikan napas, kalimat Ijab Kabul itu membelah kesunyian. Kata “Sah” yang bergema kemudian bukan sekadar tanda legalitas, melainkan sebuah proklamasi bahwa dua kebudayaan, dua bangsa, dan dua hati kini telah menjadi satu raga di bawah payung Islam.
Tangis tak lagi terbendung saat momen sungkeman tiba. Di bawah bimbingan nilai-nilai Islami, Ulya dan Nafis bersimpuh di kaki orang tua mereka. Di sinilah puitisnya sebuah pengabdian terlihat; bagaimana seorang putri melepas masa lajangnya dengan rida ayahanda serta ibunda dan seorang putra berjanji menjaga amanah di tanah seberang.
Restu orang tua yang mengalir siang itu menjadi gerbang cahaya bagi mereka. Janji untuk membangun keluarga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah bukan lagi sekadar slogan di kartu undangan, melainkan komitmen suci yang dipatrikan di jantung Dalan Lidang.
Kisah Ulya dan Nafis adalah pengingat bagi kita semua: bahwa sekat-sekat paspor dan perbedaan dialek bahasa akan luntur jika agama menjadi pemersatunya. Perjalanan jauh dari Malaysia ke Mandailing Natal bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan menjemput takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh.
Acara ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin oleh penghulu, mengantar pasangan baru ini menuju ufuk rumah tangga. Dari Dalan Lidang, cinta ini bersemi, dan ke atas langit, doa-doa kebaikan ini mengetuk pintu langit. (Hamzah).











