Madinapos.com-Simpang Gambir : Proyek air bersih di Kelurahan Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal dengan nilai kontrak mencapai Rp.1,1 Milyar dinilai warga pengerjaannya asal jadi, pasalnya, banyak pipa yang bocor diikat dengan karet, kemudian Imtek atau Bak Penampungan air juga tidak dikeruk oleh kontraktor bangunan meskipun terlihat ada penambahan pembangunan ketinggian bak penampung air.
Melihat kondisi bangunan pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat tersebut, Naposo Bulung dan tokoh masyarakat setempatpun melihat dengan dekat kondisi proyek benilai Rp.1,1 Milyar itu.
Menurut pengakuan tokoh pemuda Kelurahan Simpanggambir, Khairul (Kilung) pada saat ujicoba air dialirkan melalui pipa tersebut, banyak sambungan pipa yang bocor, dimana air meluber keluar dari batangan pipa dan masih banyak air nya tidak sampai ke depan rumah masyarakat.

Kondisi pipa saluran air terlihat bengkok disela sela potongan kayu
Parahnya lagi kata Kilung, ada beberapa pipa yang terkesan asal pasang, bahkan sambungan nya bengkok – bengkok.
“Disaat masyarakat ini membutuhkan air bersih karena Sungai Batang Natal sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan akibat airnya kotor karena aktifitas penambangan emas ilegal di Hulu Sungai Batang Natal, hanya bak air bersih Simpang Gambir ini lah yang selalu dimanfaatkan banyak orang”, kata Kilung.
Kilung menilai tim pengawas lapangan proyek ini tidak serius mengawasi dan ada dugaan pembiaran.

Pipa aliran air ke bak penampungan terkihat bocor dan pecah
PPK Dinas Perkim Mandailing Natal, Aspar yang di konfirmasi Selasa (28/12/2021) lewat telephon selular terkait proyek ini mengaku, proyek tersebut sudah di PHO dan kondisi saat di PHO oleh timnya dari Dinas Perkim baik.
Namun kata Aspar, Proyek air bersih yang bernila Rp. 1,1 milyar ini masih dalam proses pemeliharaan selama 160 hari setelah PHO, apabila ada kerusakan maka kontraktor akan bertanggung jawab melakukan perbaikan.

Kondisi bak penampungan sarana air bersih di Kelurahan Simpang Gambir.
Terkait bak penampungan air, Aspar selaku yang bertanggung jawab sebagai pengawas lapangan proyek ini mengaku dalam kontrak tidak ada dianggarkan pembangunan bak baru hanya penambahan ketinghian bak saja.
Terkait kebocoran air dari pipa, Aspar mengaku itu disengaja agar pipa tidak meledak saat kondisi air banyak, sehingga ada istilah pipa di jarum dalam pengerjaan proyek itu.
Aspar juga mengaku, mulai proses awal rapat penentuan titik lokasi dilakukan di kantor Camat dihadiri Camat, Lurah, Tokoh Masyarakat dan Wakil Ketua DPRD Harmensyah Batubara yang juga merupakan Anggota DPRD dari Daerah Pemilihan III.
Pihaknya dan kontraktor juga selalu melibatkan dan berkordinasi dengan Lurah dan Camat serta tokoh masyarakat setempat. Tegas Aspar.
Yang jelas kata Aspar, semua kerusakan sudah dilakukan perbaikan, dan konsep nya adalah membangun, apabila masih ada kerusakan, maka masih ada proses pemeliharaan sebelum proyek ini diserahterimakan.
Saat Reporter Madinapos Sakti Lubis melakukan konfirmasai ke Camat, justru sebaliknya, pengakuan Pengawas Proyek dari Dinas Perkim tersebut dibantah keras oleh Camat, ” saya tidak pernah dikasih tahu tentang proyek itu, saya tidak tahu juga berapa anggaran dan siapa pemborongan, kalau dikatakan saya teribat langsung kelapangan meninjau proyek itu jelas keliru dan saya bantah”. kata Kamal Khan Lubis Camat Lingga Bayu.
Hal senada diakui oleh Lurah Simpang Gambir, Muhammad Hanafi S.sos, dia juga mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses apapun di pembangunan sarana air bersih di Kelurahan Simpang Gambir itu.
“Saya tidak tahu menahu mengenai proyek air bersih tersebut, berapa anggaran dan siapa pemborong nya, dan saya kalau serah terima nanti ke masyarakat jelas saya akan tolak selaku Lurah setempat” kata Lurah Simpang Gambir.
Reporter : Sakti Lubis











