Madinapos.com, Panyabungan – Kasus dugaan malapraktik yang menimpa pasien berinisial RSH di Rumah Sakit (RS) Permata Madina, Mandailing Natal, memasuki babak baru. Direktur RS Permata Madina, dr. Evan Doni, kini menyatakan pihaknya menutup diri dari penjelasan teknis dan memilih fokus menghadapi somasi hukum.
Pernyataan tersebut disampaikan Doni pada Selasa (31/03/2026), setelah sebelumnya bungkam meski telah dikonfirmasi sebanyak lima kali oleh awak media sejak kasus ini mencuat.
” Saya kira sudah lengkap dan viral beritanya. Jadi, izinkan kami untuk konsentrasi menghadapi somasi yang sudah kami terima,” ujar Doni singkat, menolak menjelaskan rincian dua somasi yang diterimanya pada Senin kemarin.
Peristiwa tragis ini bermula saat RSH dilarikan ke RS Permata Madina akibat keluhan lambung setelah terjatuh di rumahnya. Namun, prosedur medis yang seharusnya menyembuhkan justru berujung pada hilangnya anggota tubuh pasien.
Pasien didiagnosa menderita masalah lambung (asam lambung), Perawat memasang infus di tangan kiri pasien. Tak lama, area tersebut membengkak hebat hingga jarum harus dipindahkan ke tangan kanan, Bukannya membaik, tangan kiri pasien justru menghitam dan lebam permanen pada bagian jari-jari.
Setelah sempat dioperasi di RS Permata Madina namun gagal, pasien dirujuk ke RS dr. M. Djamil, Padang. Di sana, tim medis mengambil keputusan pahit, tangan kiri RSH harus diamputasi karena jaringan sudah mati.
Lebam serupa sebenarnya sempat muncul di tangan kanan pasien, namun beruntung masih dapat diselamatkan melalui pengobatan intensif.
Keluarga RSH memutuskan melayangkan somasi setelah upaya mediasi berkali-kali menemui jalan buntu. Orang tua korban merasa pihak manajemen rumah sakit tidak menunjukkan tanggung jawab yang tulus atas kondisi cacat permanen yang diderita anak mereka pasca-perawatan.
” Intinya, anak kami masuk karena asam lambung, tapi keluar dengan tangan sudah dipotong,” tegas pihak keluarga.
Kini, publik menanti bagaimana kelanjutan proses hukum ini, di tengah sorotan tajam terhadap standar keselamatan pasien dan profesionalisme tenaga medis di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Mandailing Natal tersebut. (Suaib Rizal).











