Menu

Mode Gelap

Opini

Bagaimana Jika Dalihan Natolu Diimplementasikan Pada Wacana Peradaban Baru Koperasi Indonesia Di Mandailing Natal


					Bagaimana Jika Dalihan Natolu Diimplementasikan Pada Wacana Peradaban Baru Koperasi Indonesia Di Mandailing Natal Perbesar

Mandailing Natal memiliki struktur sosial yang dikenal dengan dalihan natolu. Dalihan natolu merupakan sistem adat yang sangat terbuka, demokratis, berkembang, juga sangat menjaga keseimbangan dan keharmonisan. Dalihan natolu terdiri dari kahanggi (teman semarga), anak boru (pihak pengambil istri), dan mora (pihak pemberi istri).

Kehadiran dalihan natolu ibarat tungku yang memiliki tekanan berat yang sama dan periuk sebagai tanggung jawab bersama supaya berdiri kokoh. Hal tersebut sejalan dengan prinsip koperasi yang menunjukkan kesamaan peran, kewajiban dan hak dari ketiga unsur dalam dalihan na tolu dan seluruh anggota pada koperasi.

Implementasi dalihan natolu yang memiliki nilai sosial budaya, nilai partuturan, persaudaraan, keagamaan, gotong-royong, dan adat budaya dalam peradaban baru koperasi Indonesia dapat menciptakan kemaslahatan bersama dengan memberikan pelayanan prima model BMI Syariah berupa sedekah, pinjaman, pembiayaan, simpanan dan investasi melalui pengembangan budaya menabung dan pemberdayaan Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf (ZISWAF) dengan tujuan untuk kemandirian yang berkarakter dan bermartabat sesuai prinsip-prinsip syariah dalam menciptakan kemaslahatan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan spiritual.

Perlu diketahui bahwa istilah peradaban baru koperasi Indonesia mengacu pada wacana koperasi yang menyangkut 5 poin penting. Pertama, koperasi haruslah besar. Kedua, koperasi haruslah dikelola secara professional. Ketiga, koperasi harus menciptakan budaya mandiri, berkarakter dan bermartabat. Keempat, koperasi harus bertema pemberdayaan. Kelima, koperasi harus menjadi institusi yang peduli sesama.

Kearifan lokal yang dikembangkan berdasarkan adat dalihan natolu pada masyarakat Mandailing antara lain (1) Marsialapari yang merupakan tradisi gotong-royong Masyarakat muslim Mandailing dapat meningkatkan nilai ekonomi dan sosial karena adanya kegiatan gotong royong dan kebersamaan.

(2) Harangan rarangan dapat menciptakan keseimbangan antara masyarakat dan lingkungan dengan tetap menjaga hutan dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan akan dapat meningkatkan perekonomian dan kemaslahatan bidang kesehatan salah satunya melalui larangan untuk mencemari air yang menjadi sumber kesehatan.

(3) Lubuk larangan dapat meningkatkan nilai perekonomian melalui jual beli ikan, sosial melalui keuntungan dana pendaftaran yang dibagikan kepada anak yatim dan bidang Kesehatan melalui sungai yang dibudidaya dan tidak tercemari.

(4) Bahasa daun yang mengisyaratkan betapa orang Mandailing dekat dengan alam, sehingga mereka pada dasarnya adalah pecinta dan pelestari alam sehingga tercapai ekologi alam dan manusia yang seimbang.

Kearifan-kearifan lokal ini menunjukkan bahwa masyarakat Mandailing Natal yang peduli lingkungan, peka, dan arif terhadap pelestarian alam termasuk hutan dan sumber daya airnya. Dalam semangat yang sama untuk menjaga kelestarian hutan, menjadi momentum baik jika hutan dioptimalkan pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat Madina.

Hal ini perlu diwujudkan melalui menanam kembali hutan dengan tanaman produktif yang memberi kesejahteraan kepada masyarakat, misalnya menanam manggis, durian, petai, jengkol, pala, coklat, dll. Bahkan sangat mungkin mengkonversi tanaman karet dengan tanaman yang cepat membawa hasil dan bernilai ekonomis lebih tinggi dibanding karet.

Peran dalihan na tolu sangat penting dalam mengawal ikhtiar baru ini sebagai gerakan bersama dengan bingkai koperasi menuju kesejahteraan bersama.

Selain itu, ungkapan-ungkapan masyarakat Mandailing seperti manat sanga pe jamot, marhamaranggi, elek marboru, dan hormat marmora, artinya harus berhati-hati kepada kahanggi, berlaku sayang kepada anak boru, dan selalu hormat kepada mora.

Dalihan natolu juga dapat membentuk struktur koperasi yang tahu fungsi dan tugasnya masing-masing. Bila seseorang berada pada kedudukan mora, maka dia lah yang bertanggungjawab sebagai ketua/pimpinan, dan anak boru sebagai pekerja yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan.

Implementasi pelaksanaan dalihan natolu melalui koperasi dapat mempersatukan masyarakat desa dan budaya adat, kemudian juga dapat memperkuat hubungan silaturahmi dengan masyarakat lainnya yang dijalankan berdasarkan syariat agama bersama-sama melalui pendekatan persaudaraan supaya menanamkan nilai-nilai akidah secara emosional kepada masyarakat, memberikan contoh teladan kepada masyarakat lainnya sebagai anugerah Allah dan menanamkan akhlak dan nilai-nilai Islam kepada masyarakat dan sekitarnya.

Implementasi dalihan natolu melalui koperasi juga mampu menciptakan kemaslahatan dalam bidang spiritual. Konsep ini selaras dengan budaya kerja Koperasi BMI yang digali dari sifat-sifat Rasulullah Muhammad SAW sehingga akan memperkuat wacana peradaban baru koperasi Indonesia. Jika kita tinjau lebih lanjut tentang budaya kerja Koperasi BMI yakni empat sifat Rasulullah.

Yang pertama, shiddiq, secara bahasa diartikan jujur. Kejujuran atau kebenaran mengandung suatu kekuatan. Serta dari jiwa yang kuat akan muncul kejujuran. Sifat shiddiq dipahami oleh Koperasi BMI sebagai benar, jujur dan berintegritas.

Kedua, amanah yang secara bahasa dimaknai dapat dipercaya. Kata amanah merupakan derivasi dari kata iman dan aman. Dimana amanah merupakan suatu sikap dan buah iman (percaya) yang berusaha mencipatakan suatu kondisi aman. Sehingga unsur amanah meliputi komitmen, kerja keras, dan konsistensi. Amanah dipahami oleh Koperasi BMI sebagai komitmen, tanggung jawab dan dapat dipercaya.

Lalu yang ketiga adalah tabligh, secara bahasa diartikan menyampaikan. Selain itu tabligh juga memiliki makna keterbukaan atau transparansi. Tabligh di Koperasi BMI dipahami sebagai istiqomah, transparan dan menyampaikan.

Keempat adalah sifat fathanah, yang berarti cerdas. Cerdas berkaitan dengan fungsi serta peran yang diemban. Fathonah tidak hanya sebatas lingkup kecerdasan intelektual semata. Akan tetapi mencakup kecerdasan spiritual, emosional, dan sosial.

Fathanah di Koperasi BMI dipahami sebagai cerdas, visioner dan inovatif.

Jika kita cermati lebih dalam lagi ternyata implementasi wacana peradaban baru koperasi Indonesia dapat menjadi penyangga untuk menciptakan keharmonisan dan keselarasan sesuai dengan dalihan natolu. Hubungan timbal balik antara implementasi wacana peradaban baru koperasi Indonesia dengan dalihan natolu akan menciptakan dinamisasi yang semakin memperkuat keduanya. Inilah yang disebut sebagai terciptanya multiplier effect yang semakin memperkuat. (**)

Penulis **: Kamaruddin Batubara, SE., ME

(Presdir Kop. Sekunder Benteng Madani Indonesia, Dir. Kopsyah Benteng Mikro Indonesia).

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 512 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

ADAB (Menyimak Penyelenggara Negara di Akhir 2023 )

17 November 2023 - 09:45

Cermin Politik di Pilkades

2 September 2023 - 09:22

Mengawal Pemilu 2024 Dengan Partisipasi Masyarakat

28 Mei 2023 - 17:21

Strategi Pembangunan Sosial Partisipatif Mewujudkan Madina Bersyukur dan Berbenah

27 Februari 2023 - 15:34

Ibu di Mandailing (Pandangan Sosio-Antropologis terhadap Umak)

23 Desember 2022 - 18:12

Jangan Mudah Terpengaruh, Informasi Belum Tentu Berita

18 November 2022 - 09:05

Trending di Opini