Menu

Mode Gelap

Opini

Tradisi Askida Ekmek Vs Korupsi


					Tradisi Askida Ekmek Vs Korupsi Perbesar

 

Tahun-tahun belakang ini, Turki telah memiliki capaian yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi yang mengesankan banyak pihak. Proses modernisasi dilakukan sebagai penciptaan jatidiri budaya yang praktiknya didominasi dengan mengangkat seni rupa seperti lukisan, ukiran terutama arsitektur.

Perpaduan modernisasi dan westernisasi diterima secara bertahap dengan memadukan sekumpulan unsur-unsur yang beranekaragam dari berbagai budaya Mediterania Timur (Asia Barat) dan Asia Tengah dan sedikit dipengaruhi Eropa Timur.

Dengan membaca sejarahnya, tradisi ini berawal dari Kesultanan Utsmaniyah, sebuah negara yang multi-etnis dan multi-agama. Budaya Kesultanan Utsmaniyah berevolusi selama beberapa abad dengan penyerapan dan pengadaptasian budaya bangsa lain yang ditaklukkan.

Asimilasi ini, melahirkan budaya baru dengan kebersamaan yang kuat. Hasilnya saat ini, Turki adalah satu-satunya negara Islam maju yang paling bergaya barat.

Terkait kebersamaan dengan berbagi, Turki mempunyai tradisi unik yang tidak hanya dijalankan saat puasa Ramadhan yaitu Askida Ekmek. Tradisi ini tergolong unik. Askida Ekmek secara harfiah berarti roti yang ditangguhkan yang intinya adalah cara berbagi roti untuk sesama.

Istilah tersebut berkaitan dengan cara berbagi roti yang telah dijalankan orang Turki sejak beberapa abad yang lalu. Prinsip utama tradisi ini adalah membantu orang tanpa berharap akan imbalan atau pengakuan, agar penerima bantuan tetap dapat menjaga martabat (tidak merasa ada ikatan jasa) sembari meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.

Proses tradisi askida ekmek secara singkat adalah: Membeli roti di toko dengan membiasakan lebih dari kebutuhan, umpamanya beli dua roti, tetapi hanya satu roti yang dibawa pulang. Saat membayar, diserahkan ke penjaga toko satu roti yang ditangguhkan, yang diniatkan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Sang penjaga toko pun, menyimpan roti tersebut dan dikumpulkan dengan roti yang ditangguhkan lainnya dalam keranjang. Penjaga toko itulah yang memberikan roti secara gratis kepada orang yang datang meminta karena membutuhkan. Namun sisi lainnya, sekian orang pula yang membayar untuk dua roti tetapi hanya mengambil satu roti saja.

Pemberian ekmek (roti) merupakan sesuatu yang penting di Turki yang didasarkan pada kepercayaan Islam dan kebiasaan hidup dengan makan roti menopang kehidupan.

Tidak diketahui secara pasti kapan dan bagaimana askida ekmek bermula, konon tradisi berbagi roti berakar dari zaman Ottoman. Diyakini tradisi ini terkait dengan konsep zakat, sebagai tindakan amal. Para sultan Ottoman juga menyerukan mereka yang mampu untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Lantas, bagaimana hubungan tradisi askida ekmek dengan perilaku korupsi yang sudah mentradisi di negara ini. Tentu dapat dianalisa dengan mengamati dari praktik sikap dan perilaku masyarakat, pengusaha dan pemerintahnya. Fokus askida ekmek adalah merawat tradisi sikap dengan semangat kebersamaan dan berbagi yang diwujudkan dengan memberi terhadap sesama di Turki.

Sangat jelas unsur kejujuran menjadi pusat perhatian dalam konteks ini. Sedangkan korupsi ini sangat berhubungan dengan kejujuran dan unsur lain dalam narasi berikut.
Semangat berbagi yang tulus iklas telah menjadi tradisi yang terawat, sehingga mengkristal di hati dan jiwa masyarakatnya. Kearifan ini bukan hanya sebuah konsep akan tetapi nyata dalam berperilaku berbagi dan menjadi kebiasaan secara turun-temurun sebagai sebuah kebanggaan ibadah sosial terhadap penciptaNya.

Menyentuh kebutuhan pokok, dengan konsep kecilnya pada objek roti (makanan pokok), menyangkut kebutuhan utama sacara langsung. Setiap orang, disetiap waktu membutuhkan dan mengkonsumsinya, sehingga setiap orang dan setiap saat dengan mudah pula melakukan ibadah sosial memberi roti (makanan pokok) bagi orang lain.

Ini artinya terjadi pengkristalan tradisi semangat berbagi sejak dini, sepanjang waktu dan setiap saat. Tentu hal seperti ini membuat mentalitas terbiasa membagi, bukan membiasakan menerima, apalagi upaya mengambil yang bukan hak.
Keterbukaan, dengan meletakkan roti di keranjang gantung, maka ibadah sosial ini dilakukan secara terbuka (transparan), tentu berimplikasi pada orang lain, menjadi contoh bagi tiap orang yang melihat untuk selalu berbuat baik.

Kejujuran, dengan kepercayaan tinggi terhadap penjual di toko roti sebagai pengelola keranjang gantung, tentu dilakukan dengan jujur dan tatakelola yang transparan, juga penting pula dicermati kerelaannya mengelola dan penyiapan sarana keranjang roti gantung sebagai ibadah.

Tidak rakus, terlihat dari kebiasan masyarakat pemanfaat yang tidak mengambil atau meminta roti melebihi kebutuhan saat itu. Rakyat yang datang meminta bila dikasih empat tapi kebutuhannya hanya dua dengan karakter jujur dan rasa terimakasih, maka kejujurannya akan menjelaskan kepada pedagang dan mengembalikannya sebahagian.

Semangat hidup tinggi; terlihat dari rakyat yang hanya mengambil bagian sebesar kebutuhannya. Mereka berujar “Ada hari milikku, ada hari milikmu”. Yang dapat dipahamkan sebagai semangat hidup dengan harapan besok hari dia tidak lagi meminta bagian dari roti gantung, akan tetapi sebaliknya berharap besok hari saatnya untuk membagi ke roti gantung.

Mereka yang tidak mampu, pun masih berharap hidup lebih baik dan saat itu berharap dapat menyisihkan roti untuk dititip di keranjang gantung. Mereka yang sudah membaik akan melakukan hal yang sama untuk menitip roti dikeranjang gantung.
Miskinpun bermartabat; terlihat dari ketidakrakusan dengan membatasi diri dalam meminta roti hanya sebatas kebutuhan.

Demikian pula semangat kebersamaan yang tinggi sehingga membuat mereka tetap memikirkan orang miskin lainnya dapat memperoleh kebutuhan makannya. Penerima juga tidak diketahui identitasnya oleh pemberi, sehingga tidak ada keterikatan yang tentu sangat berguna menjaga martabatnya.

Budaya ASKIDA EKMEK ini diyakini merupakan bagian dari pendidikan luar sekolah yang mampu mengkristalisasi sikap dan perilaku berbasis mental yang baik, setidaknya mental jujur, mental berbagi, mental tidak rakus, mental semangat hidup tinggi, mental bermartabat dan lainnya. Diyakini kristalisasi mental yang terjadi sejak dini, setiap saat, dekat dengan kehidupan tiap orang seperi Tradisi Askida Ekmek ini, sangat berpengaruh pada mentalitas rakyat bangsa. Mungkin ini salah satu yang meletakkan Turki pada tingkat peradaban yang terpandang dimata banyak pihak.

Korupsi di Indonesia sering disebut sudah menjalar ke semua lini. Bila ini merupakan realita, tentu diyakini bahwa korupsi nantinya akan menjadi tradisi, menjalar menjadi budaya yang merupakan bagian dari peradaban. Peradaban inilah yang nanti mencoreng sejarah ‘sekeping tanah surga di muka bumi’ dicatat dunia pernah memiliki peradaban korupsi yang akut.

Bukan tidak percaya dengan cara negara ini memberantas korupsi, hanya saja telah sekian banyak pola, cara dan strategi yang dilakukan, nyatanya pelaksana penegaknya juga sering melibatkan diri dalam ajang yang sangat meresehkan rakyat. Para petinggi yang diharapkan menjadi teladan untuk mengikisnya, malah itu pula yang sering kejadian oleh penegaknya.

Harapan dari narasi ini, tentu memulai mentalitas jujur, bermartabat dan semangat berbagi, telah kita mulai sejak dini pada anak, setiap waktu, dengan cara sederhana, mulai dari rumah tangga dalam kehidupan yang nyata. Dan generasi inilah yang memungkinkan munculnya mentalitas generasi baru yang jujur di negara ini. (**)

Penulis : Dr. M. Daud Batubara, MSi.
Editor : red
Ket : Tulisan ini disadur dari berbagai narasi sejarah Turky yang dimaknai dalam konteks tradisi dan pencegahan korupsi.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 136 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Jangan Mudah Terpengaruh, Informasi Belum Tentu Berita

18 November 2022 - 09:05

Uji Kompetensi Kepala Sekolah, (Konsep Berbenah Pendidikan di Madina)

8 November 2022 - 06:23

SMGP DAN KONSORSIUM

3 Oktober 2022 - 16:33

BBM (Dulu, Sekarang Dan Nanti)

30 September 2022 - 14:21

Mari Membangun Negara Bersama Pajak

22 September 2022 - 12:57

Harta Dalam Pandangan Islam

12 Agustus 2022 - 19:34

Trending di Opini