Menu

Mode Gelap

Opini

Ulama Dan Politik (Kepingan Pikir Untuk Kado Ultah 96 NU)


					Ulama Dan Politik (Kepingan Pikir Untuk Kado Ultah 96 NU) Perbesar

“Ulama jangan berpolitik, seyogyanya segera kembali ke pesantren, ke masjid, ke mushalla, atau ke surau”. Kalimat ini sering hadir di telinga kita sebagai intrik dunia politik. Bahkan diperkuat lagi dengan intrik “Sudah saatnya para ulama, khususnya yang selama ini aktif, atau minimal simpatisan parpol tertentu, untuk mengundurkan diri”.

Intrik ini dapat diterjemahkan sebagai bentuk kegalauan banyak pihak atas keberadaan ulama yang dipahami memang telah berjuang seperti kristal salju yang menggelinding makin lama makin besar dan makin kuat untuk masyarakat bangsa yang dimulai jauh sebelum kemerdekaan. Intrik yang bersumber dari kaum penjajah itu, kemudian oleh tetangga sebelah dipelihara terus sejak masa perjuangan masyarakat bangsa karena terkadang masih mumpuni untuk mencegah sebahagian ulama berpolitik, namun tentu tidak untuk semua ulama.

Kehidupan masyarakat bangsa ini, telah mensejarahkan bahwa politik dan ulama merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan berkontribusi besar terhadap dinamika peradaban bangsa yang oleh ulama digunakan untuk meraih kebaikan bagi sebesar-besar manfaat kehidupan masyarakat bangsa.

Tak pernah ada sejarah masyarakat bangsa ini yang menunjukkan bahwa politik itu berdiri sendiri dan memisahkan diri dari para ulama. Oleh karena itu, boleh pula disebut bahwa masyarakat bangsa ini tidak perlu terlalu khawatir selama ulama masih menggandeng negara ini dalam berpolitik, karena ini sudah uji sejarah para ulama dengan TNI.

Kini saatnya muhasabah, untuk memaknai figur Rasulullah sebagai panutan dalam berpolitik berbangsa bahkan pada kancah internasional. Sehingga harus diluruskan bahwa politik dan ulama dalam bahasan ini sebagai skop yang bernilai besar dan bukan hanya sekedar berpikir politik praktis untuk duduk di satu kelembagaan. Ibaratkan bahwa masyarakat bangsa ini sedang mengarungi samudra menuju bahtera sosicieti 5.0 dengan kapal besar dan megah, namun sedikit ada rada oleng yang membuat keraguan dalam berlayar.

Lantas, apakah kita harus membuat rakit/perahu dan turun dari kapal megah tersebut untuk sampai berlabuh pada sosicieti 5.0 ?. Tentu tidak, kita tidak harus membuat perahu kecil yang baru karena kita telah memiliki segalanya di kapal besar dan megah tersebut.

Para ulama harus telah berpikir membentuk generasi yang memiliki multi bidang ilmu yang mampu menyebar disemua lini dengan mendekatkan serta mendekap erat semua ilmu dengan basis agama yang kuat. Dan inilah serangan politik yang harus digencarkan, untuk mampu lebih kuat bagi generasi lanjutan mengarungi samudra di atas kapal.

Ketika Presiden Jokowi menyampaikanm keinginannya kepada para Kiai untuk memanggil pulang Ainun Najib (Singapura), tentulah kita pahami karena disamping basis agama yang kukuh, juga karena kemampanan ilmunya dalam berbagai disiplin juga mumpuni dengan bukti segudang prestasi.
Inilah politik ulama yang harus di muhasabah kembali sebagai trend politik ulama yang benilai tinggi. Kapal mewah dan besar yang kita tumpangi harus kita pahami sebagai satu sistem besar yang terdiri dari sekian banyak sub-sub sistem yang rumit.

Mengendalikan sistem ini haruslah menguasi pula sub-sub sitem yang rumit tersebut dengan spesipikasi ilmu dibidangnya. Untuk mengendalikan kerumitan tersebut perlu dilakukan penguatan ilmu sesuai kebutuhan dimana satu subsistem berbeda dengan yang lainnya. Artinya, para santri harus menguasai berbagai keragaman ilmu pengetahuan dengan kematangan keterampilan dari berbagai bidang ilmu.

Inilah yang harus di muhasabah kembali pada Pola Pendidikan Islam yang tidak hanya bergumul dalam satu ranah tatanan keilmuan, akan tetapi harus mampu merambah setiap ranah ilmu dan inovasinya di berbagai lini keilmuan. Bila ingin kapal besar dan megah tersebut, yang diilsutrasikan di atas, tidak oleng dan sampai berlabuh ketujuan dengan selamat dan nyaman, tentu harus dilakukan oleh ahli-ahli yang berilmu dan terampil dengan dasar ibadah yang kuat untuk mebersihkan jiwanya.

Dengan demikian bagian semua kapal seperti geladak, buritan, cerobong, propeller, kulit kapal, mesin, lampu sorot, haluan, bangun atas ditangani oleh santri. Demikian pula keamanan, pelayanan, makan, kesehatan penumpang dan lainnya harus dikendaikan oleh para generasi yang kuat ibadahya (santri) dengan ilmu pengetahuan kebidangan yang mumpuni pula. Maka koordinasi antar sub-sub sistem sudah lebih mudah oleh orang-orang yang sejiwa yakni santri-santri yang memiliki ilmu yang mumpuni di bidangnya dengan keterampilan yang dapat dihandalkan. Yang pada akhirnya, Kapten Kapal tentu akan terpilih dari orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman mengelola kapal dengan basis santri yang kukuh.

Bila penguasaan ilmu multi pengetahuan, sesuai kebutuhan pada sub-sub sistem pada ilustrasi kapal besar dan megah tadi dapat terjadi oleh para santri, maka tingkat kecepatan dan kenyamanan penumpang dalam kapal akan berlabuh lebih cepat. Beranjak dari ilustrasi kapal tersebut, “selogan penjajah yang menyebut bahwa politik itu jahat, sedangkan kiai dan ustaz itu suci, jadi kiai dan ustaz jangan berpolitik”, adalah kekeliruan yang dipelihara sebagai intrik politik yang ingin mengkadali masyarakat bangsa. Ulama dan santri tidak boleh alergi berpolitik, wajib berpolitik untuk mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penting diingat bahwa “Segenggam Kekuasaan Lebih Berpengaruh Dibanding Segudang Kebenaran”. Bertolak dari kenyataan tersebut, sangat jelas bahwa kekuasan memegang peran penting karena akan berhubungan dengan pengambilan keputusan yang bijak. Bila kebijakan ini menyentuh pada perjuangan semangat masyarakat bangsa yang di berkiprah pada pola-pola keulamaan tentu janji Alloh akan turunkan kemakmuran. Sehingga semangat mengkaji dinamika politik ini tetap dilandasi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang sudah menjadi ciri khas para ulama harus terus dibenahi. Politik sangat penting sebagai sarana dakwah dengan menyadari akan pentingnya sebuah kekuasaan politik yang dilandasi nilai-nilai luhur.

Misi Kembali ke Khittah akan lebih nyaring ketika para ulama berkeliling mengonsolidasikan NU yang memegang sub-sub sistem di masyarakat bangsa ini. Hasil rembug para ulama sepuh hingga terwujudnya Sembilan Pedoman Berpolitik Bagi Warga NU tidak boleh hanya menjadi tulisan indah yang dijadikan selogan, akan tetapi secara bertahap, berlanjut dan meningkat harus dilakukan. Semua lini dengan multi science dengan memanfaatkan potensi multi talenta NU, maka harus mengisi semua lini yang ada di pemerintahan ini, tentu dengan bekal pendidikan yang juga inter disiplin keilmuan yang harus dibangun pada pesantren-pesantren yang lebih modern.

Setelah mengulik masyarakat bangsa, ingin rasanya menjadi catatan dan sekaligus pertanyaan yang harus dijawab masyarakat bangsa dalam kerangka pikir keilmuan di kancah dunia adalah sebesar apa teknologi dan inovasi yang telah menjadi kebutuhan masyarakat dunia yang merupakan hasil ilmu dan hasil karya masyarakat muslim dibanding dengan tetangga sebelah. Lantas bagaimanakah muslim ini akan menguasai ekonomi dan teknologi yang dapat mempengaruhi masyarakat internasional dengan keberadaan muslim sebagai rahmatan lilalamin. (**)

(M. Daud Batubara, Catatan dari PKPNU I Madina).

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 174 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Jangan Mudah Terpengaruh, Informasi Belum Tentu Berita

18 November 2022 - 09:05

Uji Kompetensi Kepala Sekolah, (Konsep Berbenah Pendidikan di Madina)

8 November 2022 - 06:23

SMGP DAN KONSORSIUM

3 Oktober 2022 - 16:33

BBM (Dulu, Sekarang Dan Nanti)

30 September 2022 - 14:21

Mari Membangun Negara Bersama Pajak

22 September 2022 - 12:57

Harta Dalam Pandangan Islam

12 Agustus 2022 - 19:34

Trending di Opini