Berita Daerah

Pendapatan Petani Salak Kecamatan Angkola Barat Semakin Memprihatinkan

Madinapos.com –  Tapsel.

Kaharuddin Harahap atau Pak Kahar, salah seorang pekebun salak dengan 2,5 Hektar di Desa Hutakoje Dusun 1 Parsalakan Kecamatan Angkola Barat, merupakan salah seorang diantara ratusan pemilik kebun salak yang dikenal dengan sebutan Salak Sidempuan ini menuturkan banyak hal terkait perkembangan perkebunan salak diwilayah ini yang tahun-tahun belakangan ini yang semakin sulit, diantaranya persoalan hama tanaman dan dampak pandemi menimbulkan kurangnya pesanan.

Pak Kahar kepada media ini yang mengajak menunjukkan lokasi kebun salak yang telah dikelolanya sejak 1984 atau lebih kurang 37 tahun yang lalu ini menuturkan bahwa harapan keluarganya hanya tertuju kepada hasil dari perkebunan salak ini, terutama untuk mensekolahkan anak dan biaya hidup,” saat ini sangat sulit dek, harga salak menurun karena permintaan turun belum lagi persoalan hama seperti kera dan babi hutan yang selalu merusak buah”, ungkap pria berperawakan tegap berusia 62 tahun ini.

“Dengan luas 2,5 hektar kebun salak ini menghasilkan dalam sebulan hanya 10 karung salak yang dipanen setiap sekali 2 minggu, dengan harga salak saat ini Rp. 150.000 per karung, itu pun cara menjual nya melalui pesanan, jadi dalam sebulan berpenghasilan hanya 2 jutaan, juga salak ada musimnya”, ungkapnya sambil memetik beberapa buah salak untuk dicoba.

Menurut pandangan Pak Kahar, saat ini banyak kera dan babi masuk ke perkebunan salak untuk mencari makan dikarenakan habitat mereka sudah banyak yang terganggu,” sejak hutan di tebangi hama kera dan babi hutan merusak buah salak hingga menyebabkan gagal panen khususnya bagi kami di Desa Parsalakan ini”, tambahnya.

Sambil banyak bercerita tentang masa jayanya perkebunan salak puluhan tahun yang lalu, Pak Kahar sangat menghimbau campur tangan pemerintah untuk membantu mereka menghadapi berbagai kesulitan saat ini,” tentu ada harapan kepada pemerintah bisa membantu petani salak yang terdampak akibat hama seperti mengatasi serangan kera dan babi hutan ini agar bisa teratasi, kemudian masa pandemi ini pemasaran agak turun jadi kalau bisa dapat dibantu solusinya”, ungkap Pak Kahar. (R.Sayuti Pulungan)

loading...

Komentar Facebook

Related Posts