Sosial

‘Mangalopek’, Tradisi Peringatan Maulid Di Tambangan, Mandailing Natal

MadinaPos.com – Tambangan

‘ Mangalopek’  adalah bahasa daerah Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, yang artinya membuat penganan dari beras dicampur dengan gula aren dan dibungkus dengan daun pisang yang proses ahirnya akan di kukus ke tungku besar dengan menggunakan kayu bakar.

Tradisi Mangalopek di suku Mandailing saat menyemarakkan Peringatan maulid nabi Muhammad SAW itu dari tahun ketahun selalu dilaksanakan masyarakat setempat.

Seperti salah satu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H, atau tahun 2019 ini, kegiatan yang masih dijadikan sebuah tradisi, yakni masak Lepat  (Mangalopek) secara serentak mulai pagi hingga sore. Hal ini dilaksanakan  penduduk di Desa Tambangan Tonga Kecamatan Tambangan Kabupaten Madina Sumut.

Seperti pantauan MadinaPos, kaum ibu mulai jelang siang berkumpul disatu lokasi  nampak sibuk mempersiapkan bahan- bahan pembuatan Lepat mulai dari tepung beras, kelapa, daun pisang dan gula aren di Desa Tambangan Tonga, Minggu ( 24/11/2019)

Selama kurang lebih 4-5 jam kaum ibu ini mengolah bahan-bahan pembuatan lopek sampai dengan proses memasak rela panas-panasan untuk menanti mempersiapkan Lepat terbaik yang nantinya pada saat pelaksanaan Maulid akan di bagikan kepada seluruh masyarakat.

Salah satunya Ibu Siti Aisah (48), warga Desa Tambangan Tonga mengatakan tradisi ini sudah berlangsung lama di dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra Mi’raj.

“Ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dengan berbagi antar sesama, nanti malam di kampung kita ini mau ada acara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, jadi Lopek yang kita masak akan dibawa kesitu untuk dimakan ramai-ramai sama warga lainnya,” ungkapnya.

Berbeda dengan tradisi umum di Indonesia, dimana memperingati Maulid Nabi atau sebuah perayaan hari besar islam salah satunya di Idul Fitri identik dengan ketupat atau lontong dan Lemang, di Mandailing Natal lebih identik dengan Mangalopek juga Mangalomang.

“ Selain karena kelezatannya, Lopek menjadi spesial dan selalu dirindukan lantaran kentalnya kebersamaan waktu membuatnya. Sejak merencanakan, sampai kemudian mencicipi lopek hasil kolaborasi bersama keluarga dan kadang-kadang ikut juga tetangga menikmati kebersamaan dalam suasana penuh canda,” tambahnya Cahaya yang menjadi ketua Panitia peringatan Maulid.(ewin)

loading...

Komentar Facebook

Related Posts