Madinapos.com – Medan.
Kepala Agronomis Starbucks FSC Surip Mawardi mengatakan bahwa Kopi Sumatera itu termahal di Dunia, karena sampai saat ini kopi yang dikenal memiliki banyak aroma dan citarasa tinggi ini tidak didapatkan di negara manapun sehingga permintaannya terus naik dan ini seharus menjadi pemicu semangat bagi petani kita di Sumatera Utara untuk terus bertanam kopi dan tentunya dengan muatan edukasi yang baik pula untuk menjaga kualitasnya.
Hal tersebut disampaikannya pada kegiatan Fokus Group Discussion (FGD) Pembukaan Prodi D IV Sains Perkopian Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan di Kampus Polbangtan Medan (27/7/2019). Kegiatan ini juga dihadiri Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Kelompok Tani SAABAS Simalungun, Pelaku Usaha Kopi, Kepala SMK Tambangan dan tenaga pengajar Polbangtan.
Surip juga banyak mengambarkan tentang perbandingan harga kopi dipasaran lokal yang terus naik dan pasaran regional asia dan eropa namun juga mengambarkan bagaimana peluang usaha hulu dan hilir yang bisa dihasilkan dari kopi bisa memberi dampak positif secara ekonomis dan bahkan saat ini membuka caffe itu sangat trend”,saya banyak memperhatikan dibeberapa gerai Starbucks dan beberapa cafe minum kopi ternyata banyak dinikmati generasi muda dan itu sudah menjadi lifestyle anak muda era milenial ini”, paparnya lebih lanjut.
“Sementara diluar pasar lokal, tingkat regional atau internasional pasaran kopi itu masih terbuka luas karena diluar negeri sana juga telah terjadi pola generasi muda yang sangat signifikan, dimana anak muda diluar negeri saat ini menyukai kopi khususnya dengan kualitas tinggi”, ungkap pak Surip yang lama berkecimpung sebagai peneliti di Puslitkoka Jember ini.
Surip akhirnya menyarankan karena kebutuhan pasar kopi dunia itu masih tinggi sementara produksinya belum memenuhi kebutuhan itu maka mulailah bertanam dengan pola yang baik, ” jika kita tidak sadar akan peluang ini khususnya untuk kopi Sumatera maka jangan salahkan nanti jika banyak orang asing yang berladang kopi disini”, sebutnya.
Sementara kepada Polbangtan, Surip berpesan agar turut berperan membantu meningkatkan produksi petani kopi Sumatera ini, ” banyak potensi produksi yang hilang atau belum memenuhi standar produksi kopi itu per hektar pertahunnya, karena masih dikisaran 750 – 2 Ha/ pertahun, seharusnya masih bisa lebih dari itu, maka peran dunia pendidikan sangat dibutuhkan untuk membantu melaksanakan penelitian dan membantu meningkatkan produktivitas petani kopi kita”, tutupnya. (Alqaf)











