Opini

Dinamika Konsumsi Pangan Dan Perlunya Pengembangan Produk Inovatif Berbasis Bahan Lokal

Dinamika Konsumsi Pangan Dan Perlunya Pengembangan Produk Inovatif Berbasis Bahan Lokal

Oleh : Anastasia Asri Widyasari

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar ketahanan bangsa. Untuk meningkatkan ketahanan pangan perlu ada analisis dinamika pola konsumsi pangan masyarakat berdasarkan data statistik termutakhir.

Pola pangan suatu masyarakat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat itu. Semakin rendah persentase pendapatan masyarakat yang digunakan untuk pengadaan pangan semakin tinggi kesejahteraan masyarakat itu. Menurut data Susenas 2017, kaidah itu berlaku pula di Indonesia. Rata-rata pendapatan per kapita orang Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini telah meningkat, dari sekitar Rp17 juta pada tahun 2007 menjadi sekitar Rp36 juta pada tahun 2016. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat itu pangsa pengeluaran untuk pangan menurun, dari 66% menjadi 40% pada tahun 2017.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat menggeser pola pangan dari makanan bersumber karbohidrat beralih ke pangan dengan gizi yang lebih tinggi. Konsumsi untuk kelompok padi-padian menurun dari 23% menjadi 7%. Berbeda dengan padi-padian, pengeluaran konsumsi untuk kelompok makanan-jadi dan minuman-jadi (misalnya lauk matang dan minuman kemasan yang dijual di warung) meningkat dari 24% menjadi 39%. Persentase pengeluaran konsumsi untuk berbagai jenis makanan lain seperti ikan, daging, telur, susu, dan buah-buahan juga meningkat seiring dengan bertambahnya kesejahteraan masyarakat. Proporsi pengeluaran untuk konsumsi kelompok bahan makanan umbi-umbian, sayur-sayuran, kacang-kacangan dan sejenisnya mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa ada ketergantungan masyarakat terhadap makanan-jadi dan minuman-jadi, terutama untuk rumah tangga dengan kesejahteraan yang lebih tinggi.

Semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, semakin tinggi pangsa pengeluaran konsumsi untuk makanan-jadi dan minuman-jadi, dengan kecenderungan lebih tinggi di perkotaan. Persentase pengeluaran konsumsi makanan-jadi dan minuman-jadi per kapita sebulan di perdesaan sebesar 26%, sedangkan di perkotaan sebesar 37%. Bertambahnya pangsa pengeluaran konsumsi untuk makanan-jadi dan minuman-jadi, terutama untuk masyarakat dengan golongan pendapatan tinggi, merupakan peristiwa yang banyak terjadi di dunia, baik di negara berkembang maupun negara maju. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya ibu rumah tangga yang melakukan pekerjaan bernilai ekonomi untuk menambah penghasilan rumah tangga. Oleh karena itu, rumah tangga harus melakukan penyesuaian dengan memilih untuk membeli lauk matang dari warung sekitar rumah daripada memasak sendiri. Faktor lainnya seperti pertimbangan kualitas, kenyamanan, kepraktisan, keragaman pilihan, dan rasa yang enak juga mendorong rumah tangga untuk melakukan hal tersebut.

Ada kecenderungan yang menarik untuk diamati. Masyarakat mulai mengurangi konsumsi karbohidrat dan beralih ke pangan yang lebih sehat seperti daging, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Menurut kaidah kesehatan perkembangan ini patut disyukuri. Dari beberapa macam bahan pangan penting, kelompok padi-padian masih menempati alokasi terbesar pengeluaran konsumsi rata-rata masyarakat Indonesia. Walaupun memiliki proporsi pengeluaran konsumsi pangan terbesar, persentase pengeluaran konsumsi kelompok padi-padian terus menurun. Proporsi pengeluaran konsumsi kelompok padi-padian pada tahun 1999 sekitar 17% dan menurun pada tahun 2017 menjadi hanya sekitar 5%. Kelompok jenis makanan dengan persentase pengeluaran konsumsinya yang relatif stabil dan cenderung meningkat adalah telur, susu, dan buah-buahan.

Pangan berbasis lokal yang merupakan sumber karbohidrat seperti umbi-umbian juga menunjukkan penurunan proporsi pengeluaran konsumsinya dengan rata-rata proporsi 0,5% (tahun 1999-2017). Di samping itu, data menunjukkan bahwa beras masih merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Hal ini patut disayangkan, karena upaya peningkatan ketahanan pangan daerah melalui diversifikasi belum berhasil.

Hal lain yang perlu disayangkan adalah kenyataan bahwa penurunan konsumsi beras bukannya diimbangi dengan kenaikan konsumsi pangan lokal, melainkan justru digantikan oleh pangan impor, yakni terigu. Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini konsumsi terigu telah meningkat sebesar 500% menjadi 10,92 kg per kapita per tahun.

Pemerintah sebaiknya mengupayakan kebijakan pola pengembangan konsumsi pangan yang berbasis bahan lokal. Inovasi produk pangan lokal perlu dikembangkan. Contoh bagus untuk ini dapat dilihat di Bogor. Saat ini sedang ngetrend produk-produk makanan baru seperti misalnya Lapis Talas Bogor, Brownies Ubi Ungu Calista, dan Kue Lapis Singkong. Semuanya berbasis bahan baku lokal. Hal seperti ini perlu dikembangkan di daerah-daerah lain.**

Ditulis : Anastasia Asri Widyasari ** Mahasiswa S2 Agribisnis, Joint Degree Program IPB-Göttingen University.

loading...

Komentar Facebook

Related Posts