Opini

AIDs di Madina Antara Issue dan Fakta

AIDs di Madina Antara Issue dan Fakta
(Oleh. M. Daud Batubara)
———————————————–
Awalnya seorang perawat dalam sela-sela candaan, bertutur tentang rasa iba terhadap seorang ibu menjelang partus, yang kemudian jadi pembicaraan serius. Setelah upaya pengalihan dari beberapa klinik bersalin dan rumah sakit, seorang ibu yang sudah waktunya partus akhirnya dibawa keluarganya ke Rumah Sakit Umum Panyabungan. Keluarga yang mendampingi sudah tidak pandai lagi mengamuk karena sudah habis amukannya di beberapa klinik sebelumnya karena serasa tidak mendapat pelayanan. Di Ruang Bersalin RSUP, mereka hanya merintih memelas minta ditangani segera. Tapi ternyata pelayanan tetap juga telat menurut pendapat keluarga pendamping.

Berselang beberapa waktu, para petugaspun turun tangan bergerak cepat menyelesaikan persalinan. Keluarga pasienpun terheran-heran. Semua petugas kesehatan yang menangani partus berpakaian aneh bak orang akan berangkat ke luar angkasa, setidaknya mirip dengan petugas pemadam kebakaran. Siapa nyana, ternyata sang ibu penderita HIV/AIDS, pantas klinik mengalihkan. Petugas harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), makanya perlu waktu hingga mereka dinyatakan harus memakai pakian yang mirip astronot saat melakukan pertolongan. Petugas harus benar-benar melindungi dirinya dari kemungkinan resiko yang akan terjadi.

Disisi lain, masyarakat Madina masih berpikiran kalau penyakit HIV/AIDS itu penyakit yang cuma menimpa para pekerja seks, perempuan nakal, penyakit kotor, penyakit kutukan, penyakit para homoseksual, para pemakai narkoba, penyakit akibat penyimpangan dari nilai, norma, dan agama. Ternyata, penyakit ini sudah sampai di rumah tangga di Madina. Kasus ini bukan pertama kali terjadi, HIV/AIDS sudah ditemukan oleh praktisi kesehatan baik di puskesmas, klinik maupun praktek rumahan, terutama di Wilayah Pantai Barat dan sekitar Kota Panyabungan.

AIDS singkatan dari ‘Acquired Immune Deficiency Syndrome’. Acquired berarti didapat, bukan keturunan. Immune terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Deficiency berarti kekurangan. Syndrome atau sindrom berarti penyakit dengan kumpulan gejala, bukan gejala tertentu. Jadi AIDS berarti kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah kita lahir. AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV atau Human Immunodeficiency Virus. Bila kita terinfeksi HIV, tubuh akan mencoba menyerang infeksi. Sistem kekebalan manusia akan membuat ‘antibodi’, molekul khusus yang menyerang HIV itu.

Proses awal, kita tidak ‘terkena’ AIDS, hanya mungkin terinfeksi HIV, dan kemudian mengembang jadi AIDS. HIV tertular dari seseorang yang sudah terinfeksi, walaupun tidak kelihatan sakit, bahkan dengan hasil tes HIV yang tidak positif. Darah, cairan vagina, air mani dan air susu ibu seseorang yang terinfeksi HIV mengandung virus yang cukup untuk menular ke orang lain. Sebagian besar tertular HIV melalui; hubungan seks dengan orang yang terinfeksi HIV; penggunaan jarum suntik bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV; kelahiran oleh ibu yang terinfeksi, atau disusui oleh perempuan yang terinfeksi HIV.

Jonathan Mann, pendiri Program Penanggulangan AIDS di WHO menyatakan bahwa sebagai sebuah epidemi, AIDS menjangkiti kelompok masyarakat melalui tiga tahapan: pertama: adalah inveksi virus HIV yang senyap dan sulit untuk diketahui, kedua; munculnya penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang menyerang sistem dan daya tahan tubuh. Dan yang paling menyakitkan adalah tahapan ketiga:, epidemi yang menyerang secara sosial, ekonomi dan politis yaitu stigma diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.

Jadilah mereka dikelompokkan sebagai kelompok yang disumpahi masyarakat atau bisa dikatakan ‘sampah’ masyarakat. Waktu stigma mulai muncul, timbul diskriminasi, diperlakukan sewenang-wenang, pelanggaran Hak Asasi Manusia. Perlakuan diskriminasi bukan dari pihak keluarga saja, tapi juga tingkat institusi lokal maupun tingkat nasional. Dari tidak diakui lagi sebagai anggota keluarga, diberhentikan dari pekerjaannya karena diketahui HIV positif, diminta pindah dari tempat tinggalnya sekarang, ditolak buat menggunakan layanan rumah sakit, transportasi, atau akomodasi hotel, sampai dikeluarkan dari sekolah. Bahkan ditolak masuk ke suatu negara karena terdeteksi virus HIV dalam darahnya.

Pelaku stigma-diskriminasi biasanya bersikap menghakimi seakan ‘penyakit’ HIV/AIDS semata-mata didapat akibat hidup yang tercela, seperti hubungan seks bebas dan pengguna narkoba suntik. Seolah-olah mereka yang paling suci, paling benar, paling dan paling segalanya. Buktinya…, apa bayi karena ibu yang ngidap HIV/AIDS itu berdosa? Apa istri setia dan santun tapi punya suami yang ternyata ngidap HIV/AIDS itu sebagai perempuan tidak bermoral? Apa orang yang tidak sengaja kena jarum suntikan atau peralatan medis yang belum steril bekas pengidap HIV/AIDS itu bisa dibilang sampah? Tentu tidak, mereka semua itu seharusnya kita anggap saudara-saudara kita yang harus didukung dan dibantu dalam berjuang melawan HIV/AIDS, bukan sebaliknya, dimusuhi, dicap buruk dan disingkirkan. Hal ini secara umum muncul karena pada kenyataannya HIV/AIDS ini benar-benar jenis penyakit yang menyeramkan dari semua sisi.

Dalam satu kondisi, wawancara pendalaman yang dilakukan oleh seorang petugas kesehatan, sebagai akibat raungan stigma ini dimasyarakat, seorang yang perempuan belia berparas lumayan cantik, yang baru saja mengetahui dirinya positif HIV di Madina ini, langsung berujar “Aku tidak terima keadaan ku seperti ini, aku akan sebarkan ini, karena ini ulah laki-laki yang menggauliku”. Kisah yang sama dengan kisahnya Rose sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), yang dengan enteng menyatakan, telah menularkan sebanyak 324 pria, 156 di antaranya adalah mahasiswa di Kabarak University, tempat di mana dia menuntut ilmu. “Tiada hari kulewati tanpa melakukan hubungan intim, rata-rata sehari dengan empat orang”, lanjutnya menuliskan pengakuannya. “Harimu telah tiba kaum pria karena menghancurkan hidupku, aku akan membuat kalian membayarnya, tidak ada yang bisa menghentikan aku dengan misi untuk tidur bersama kaum pria, mereka itu mungkin suami kalian, saudara pria kalian, pacar kalian, bapak kalian, yang telah tidur bersamaku,” katanya.

Bila kondisi yang sama dilakukan gadis ODHA yang ada di Madina secara berantai, maka pastilah akan menjadi wabah yakni “berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka” (UURI No 4/1984). Sejarah mencatat bahwa endemik atau wabah yang berasal dari mikroba dan virus lebih mematikan dan menghabiskan jumlah penduduk daripada perang apapun. Dan seringkali perang dimenangkan justru karena berkembangnya penyakit bukan karena kecanggihan senjata dan taktik dalam perang. Penyakit dapat disebut endemik apabila menjadi wabah dalam satu kelompok masyarakat tertentu seperti demam berdarah atau pandemik yang melintasi negara dan meluas seperti flu burung. Maka HIV/AIDS masuk dalam kategori pandemic.

Kita tidak dapat hanya menyatakannya sebagai kutukan, meskipun dengan taubat, mungkin menenangkan secara psikologis, tapi tidak menyembuhkan penyakit atau menghentikan penyebaran wabahnya. Sebelum akhirnya menjadi wabah di Madina, semua lini harus dengan tangkas untuk mencegah. Kita tidak terlalu penting membahas dan megadvokasi keberadaan ODHA dengan stigma bila lingkungan kita aman dari kondisi ini. Hal terpenting adalah mencegah sejak dini sebelum menyebar di masyarakat. Karena tidak terbayangkan kalau sudah semakin luas penyebarannya. Kita tidak perlu menyalahkan mereka yang datang dari jauh yang bekerja pada tempat-tempat usaha tambang dan kebun yang ada di wilayah ini, atau meraka yang pulang dari merantau dan membawanya ke penduduk kita di Madina.

Sebagai bahan banding perkembangan AIDS, Kemenkes menyebut pada tahun 2005 jumlah AIDS yang dilaporkan sebanyak 5.239, tahun 2006 (3.680), tahun 2007 (4.828), tahun 2008 (5.298), tahun 2009 (6.744), tahun 2010 (7.470), tahun 2011 (8.279), tahun 2012 (10.862), tahun2013 (11.741), tahun 2014 (7.963), tahun 2015 (7.185), dan 2016 (7.491). Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan Desember 2016 sebanyak 86.780 orang

Dapat kita bayangkan begitu cepat penyebarannya. Walaupun ada dua kasus orang yang disembuhkan, saat ini belum ada cara yang aman untuk menyembuhkan HIV. Belum ada cara untuk memberantas HIV dari tubuh. HIV belum bisa disembuhkan, hanya pengobatan yang sifatnya memperlambat perkembangan virus penyakit. Pengobatan ini juga akan membuat penderitanya hidup lebih lama, sehingga bisa menjalani hidup dengan normal. Dengan diagnosis HIV dini dan penanganan yang efektif, pengidap HIV tidak akan berubah menjadi AIDS. AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

Dengan demikian kita mungkin sudah perlu KOMISI PENANGGULANGAN AIDS sebelum mewabah. Sebelum program mengarah Curatife jauh lebih baik, lebih murah dan minim resiko serta lebih bermartabat bila dilakukan saat ini juga Program Preventif. Kita hindari kasus Kabupaten Gunung Kidul yang membentuk KPA setelah mengejutkan, yakni bahwa angkanya sudah sampai 214 penderita HIV/AIDS. Dari angka itu, 132 orang sudah di level AIDS. Padahal, di mana-mana, harusnya angka HIV lebih tinggi. Ini bisa bisa menjadi asumsi kuat, bahwa dalam konteks Gunung Kidul, angka riilnya mungkin lebih dari yang tampak. Tentu asumsi yang sama juga berlaku untuk Madina. Jika kita tidak segera secara bersama mengambil langkah dan peran yang nyata, bukankah fenomena ini akan menjadi sebuah bunuh diri yang pelan-pelan namun pasti buat Madina? Wallahu a’lam. (Penulis, Penggiat Kesehatan di Madina)

loading...

Komentar Facebook

Related Posts