Cerpen Pendidikan

Buah Manis Kegigihan

Senyum sumringah dan rasa haru menyelimuti wajah gadis semampai yang saat itu berdiri di panggung halaman sekolah. Didampingi oleh kedua orangtua, ia menerima penghargaan dari pihak madrasah.

Tepuk tangan meriah membahana, mengalun di antara rasa kagum siswa/siswi lainnya. Disaksikan dewan guru dan para siswa, ia menyambut hangat sebuah tropi kemenangan yang diserahkan Kepala Madrasah.

Ia adalah Mayang Rani, siswa MAN 2 Mandailing Natal yang saat ini duduk di kelas XII IPA Ali. Siswa berpenampilan sederhana dengan kemampuan ekonomi biasa-biasa saja namun memiliki semangat hidup yang luar biasa. Ia salah satu siswa yang ikut serta dalam  Lomba KSMO (Kompetisi Sains Madrasah Online) Tingkat Nasional dan berhasil menyabet juara 2 untuk bidang studi Kimia terintegrasi.

Atas prestasi yang diperolehnya, ia menerima penghargaan dari pihak madrasah.

Siswa yang memiliki kemampuan akademis yang baik itu juga memiliki kecakapan di bidang agama, ia termasuk salah satu hafizh Quran, sampai saat ini ia sudah hafal 5 juz. Tentu saja Rani pintar membagi waktu antara belajar dengan kegiatan tahfizhnya.

Untuk meraih juara tersebut bukanlah hal yang mudah. Untuk bisa menjadi peserta KSM (Kompetisi Sains Madrasah) ia terlebih dahulu harus mengikuti penyeleksian yang diadakan oleh pihak madrasah. Bagi siswa/siswi yang terpilih akan mengikuti bimbingan, mereka yang lulus seleksilah yang bisa  mengikuti kegiatan Lomba KSM yang setiap tahunnya diadakan oleh Dirjen KSKK Kemenag RI itu.

Rani menceritakan perjuangannya. Dimulai pada tahun 2017 ketika ia masih duduk di kelas X, pertama ia memilih bidang studi Biologi, saat proses seleksi, Rani gagal. Lalu pada tahun selanjutnya ia ikut kembali dan memilih bidang studi Matematika, dan ternyata keberhasilan belum berpihak padanya, lagi-lagi Rani harus menelan kegagalan dan kekecewaan.

Namun Rani termasuk siswa yang gigih, berkat dorongan dari orangtua dan guru-gurunya, akhirnya Rani memilih bidang studi Kimia.

“Jangan kecewa, jangan putus asa atas kegagalan, jangan takut mencoba lagi”, begitu ucap salah satu gurunya.

Dan kalimat itu mampu mencambuk semangat Rani.  Ia gigih belajar dan mengikuti setiap bimbingan yang diberikan oleh pembimbingnya, disertai harapan-harapan yang terus dipanjatkannya.

“Butuh waktu lama untuk menjadi seperti saat ini, dan melalui banyak rintangan juga,” ujarnya.

Ia menjelaskan bagaimana proses yang ia lalui ketika ikut bimbingan Kimia. Setiap hari berhadapan dengan rumus-rumus, tentu saja selain lelah, rasanya ada yang memutar-mutar di kepala, namun tekadnya untuk menjadi juara, membanggakan orangtua dan sekolahnya mengalahkan itu semua.

Ketika ditanyakan bagaimana perasaannya membaca pengumuman, ia mengaku sempat menangis terharu. “Rasanya seperti bermimpi,” ujarnya.

Rani masih tidak percaya. Ia berulang kali membaca pengumuman itu, sampai pembimbingnya meneleponnya, memberi tahu kabar gembira itu, barulah ia benar-benar percaya. Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur dan rasa terima kasih kepada Allah, orangtua, guru-guru, dan teman-teman yang selalu mendukung dan mendoakannya.

“Ke depannya, impian saya semoga bisa menjadi  lebih baik lagi, saya berharap bisa masuk PTN dan memperdalam ilmu Kimia. Kepada keluarga, Bapak/Ibu guru, teman-teman, terima kasih selalu mendukung dan mendoakan saya, terkhusus ibu pembimbing, terima kasih sudah mengantarkan saya pada kemenangan ini,” ujarnya.

Senyumnya merekah, bersama cerah mentari siang itu, setelah tropi kemenangan berada dalam genggamannya.

Kiriman Feature : Risna Yanti Ita

loading...

Komentar Facebook

Related Posts