Opini

MENJAGA ULAMA DI TAHUN POLITIK

MENJAGA ULAMA DI TAHUN POLITIK
oleh: H.J.Suhairi Nasution

Ulama bukanlah sosok yang takut mati, bukan pula sosok penakut dalam mengharungi bahtera kehidupan, tapi mereka adalah pejuang dalam masa kehidupannya, bahkan panutan yang sangat kuat keyakinannya pada Sang Penciptanya. Mereka jarang mengeluh tentang kehidupan dan selalu sangat berani berbuat baik dalam koridor “amar makruf nahi mungkar”.Justru keberanian mereka inilah terkadang yang membuat orang ataupun pihak-pihak tertentu yang memposisikan diri diseberang kebenaran, akan gerah dengan keberadaan para ulama.

Beranjak dari keberadaan ulama yang tidak pernah alpa dalam perjuangan memerdekaan negara ini, dengan teriakan Keberadaan dan Kebesaran Allah sebagai pemicu jihat, terutama saat memperjuangkan negara ini dari keinginan pihak tertentu dengan kehidupan tanpa agama (paham komunis) dimasa lalu, sampai kini masih terus menjadi intaian dari pihak-pihak yang sama. Jelas alasannya, karena ulamalah yang secara nyata tetap konsisten dan konsekwen menempatkan tanggunjawab yang paling besar dalam pundaknya untuk memastikan masyarakat harus tetap berada pada kehidupan beragama yang mengenal dan menjaga hati ummat selalu dalam Ketuhanan.

Atau, adakah orang yang berani mengatakan mau dan mampu sekuat para ulama dalam meyakinkan ummat untuk tetap dalam kehidupan dengan ahlak dan perbuatan keagamaan, sebesar kapasitas para ulama yang ihklas dengan waktu, ihklas dengan ilmu, ihklas dengan perbuatan, ihklas dengan dana. Siapakah yang berani mengatakan dirinya melebihi keihklasan pengabdian para ulama yang tidak berharap pangkat, jabatan dan harta dalam menata kehidupan ummat untuk tetap meyakini dan melakoni kehidupan pada tatanan agama. Maka pantaslah kita sering mendengar ujaran agama bahwa “Ulama adalah Pewaris Nabi”.

Saat ini, banyak beredar informasi kejadian penyerangan terhadap ulama dan juga tempat ibadah menurut media sosial. Kalau dihitung-hitung dalam rentang Desember 2017 hingga Februari 2018, setidaknya tercatat 21 kasus penyerangan. Sebaran wilayah meliputi Aceh, Banten, DKI, Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. Kasus terbanyak ada di Jawa Barat mencapai 13 kasus. Namun Polri menegaskan, lebih banyak berita hoax yang beredar. Mabes Polri telah menerjunkan tiga tim untuk mencari pelaku pendesain dan menyebarkan berita hoax. Menurut Komjen Pol Syafruddin,

Senyatanya di Jawa Barat, ada 2 kejadian, di Jawa Timur ada 2 kejadian. Daerah paling heboh dalam Hoax ada di Jawa Timur, Yogya danJawa Barat dan sehingga tim yang besar berada di daerah ini, karena isunya berkembang di tiga daerah ini yang sangat besar. Media menyajikan bahwa masalah pemuka agama ini pertama kali terjadi pada pimpinan Ponpes Al-Hidayah KH Umar Basri (60) pada Sabtu (27/1), di dalam masjid seusai shalat subuh. Beliau dianiaya dengan kayu oleh pelaku bernama Asep (50), yang menurut dugaan aparat mengalami gangguan jiwa. Satu kasus lainnya ialah yang dialami Ustaz Prawoto. Komandan Brigade Persis ini dianiaya Asep Maftuh hingga meninggal pada Kamis (1/2), yang dipukul di bagian kepala dengan pipa besi.

Sangat pantas bila perusakan tempat ibadah dan penyerangan tokoh agama yang terjadi di Jawa Timur tersebut oleh MUI Jatim menanggapinya sebagai fenomena upaya adu domba. Beberapa kejadian penyerangan terhadap tempat ibadah seperti di Tuban, diduga dilakukan oleh orang gila. Setelah itu, terjadi penyerangan tokoh agama, pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, Paciran Kabupaten Lamongan, yang dilakukan oleh diduga orang gila. Bahkan, yang baru saja terjadi, Senin (19/2) malam, penangkapan orang yang tak dikenal, karena membawa senjata tajam saat akan sowan ke duriyah (keluarga) pengasuh pondok pesantren Ploso, Kediri. Serasa ada orang gila dimana-mana, apakah itu orang gila sungguhan atau gila-gilaan, akan menjadi ranah dokter jiwa dan psikiater yang mengungkapnya.

Desakan disampaikan pula oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin agar aparat penegak hukum secepatnya menyampaikan hasil penyidikan terhadap semua kasus penyerangan sepanjang akhir Desember 2017 hingga Februari 2018. Hal ini dilakukan karena banyak yang terkait dengan tokoh agama, ulama, da’i, dan juga terhadap pastur gereja dan biksu di Tangerang. Tujuan desakan ini sangat jelas, karena dengan mayoritas kalangan ulama yang diserang, maka akan mudah menyulut reaksi dari umat. Sehingga kondisi seperti ini, bila tejadi pembiaran simpang siur informasi di media sosial yang berkepanjangan, akan memicu saling tuding antar umat beragama.

Kepala Staf Kepresidenan Meoldoko dalam kasus penyerangan terhadap ulama, seperti yang terjadi di Jawa Barat, diyakininya ada yang ‘menyetir’, dan modus tersebut menurutnya bukanlah hal yang baru dan ini dilakoni permainan lama yang bermain kembali. Sebagai pembantu dekat Presiden Jokowi, pernyataannya tidak bisa dianggap main-main, karena beliau juga mantan Panglima TNI. Pastilah ia berbicara atas pengalaman, pengetahuan, dan akses yang sangat kuat di kalangan intelijen. Kalau boleh disebut, ini semacam tabir pembuka dan penguatan penegasan bahwa benar terjadi penyerangan terhadap ulama yang cukup massif, terutama di Jawa Barat, yang dilakukan secara terencana, dengan agenda tertentu yang sedang dimainkan.

Sehinggawajarlah kalau Presiden Jokowi dengan tegas dan jelas dengan statementnya untuk mengusut sampai tuntas.

Tidak salah lagi bila fokus yang urgen dalam kondisi ini dapat dibuat dalam pertanyaan besar yakni, adakah “orang gila spesialis penyerang ulama ?”. Apakah para pelaku benar “orang gila,” seperti yang selama ini sebagai hasil identifiaksi aparat. Mungkin mereka adalah “orang gila baru’, alias gila jadi-jadian atau entah sebutan apalah yang cocok dan tepat untuk ini. Secara logis dengan berpikir positive,aparat menyampaikan demikian, mungkin agar jangan sampai masyarakat panik. Tapi bagaimana tidak panik, kalau kejadian terus menerus dan mulai menyebar ke beberapa daerah lain. Kemudian aksi tersebut dibarengi dengan penyebaran kabar bohong (hoax), seolah terjadi penyerangan dimana-mana. Penyebaran hoax yang massif ini diduga juga merupakan bagian tak terpisah dari operasi intelijen “orang gila” dengan tujuan menambah situasi mencekam. Tujuan sangat jelas yakni efek takut (fear effect). Mungkin hal yang akan muncul sebagai akar masalah (bisa juga kambing hitam) adalah sebutan Tahun Politik.

Ini juga sejalan dengan analisa Jend Budi Gunawan (BIN) yang menyatakan bahwa penyerangan sebagai sebuah operasi terencana yang juga bagian dari gerakan kampanye hitam, menjelang Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019, untuk provokasi dan adu domba warga, dengan basis isu PKI, isu SARA, atau agama. Bila pendekatan ini digunakan, maka kemungkinan yang main adalah kandidat, partai dan kelompok kepentingan dalam negeri maupun asing baik negara, maupun kelompok bisnis yang menginginkan kandidat yang didukungnya berkuasa, atau tetap berkuasa. Kepentingan dalam negerijuga bisa datang dari kelompok baru yang ingin berkuasa, dan mengubah status quo. Pendek kata ini berkaitan dengan permainan kekuasaan (power game).

Namun belajar dari berbagai kasus sebelumnya, kasus semacam ini sulit diungkap secara tuntas karena banyak kepentingan yang terlibat. Kalaupun ada yang tertangkap dan diungkap, mereka biasanya adalah “pemain” pinggiran, alias yang gila beneran. Bertolak dari kondisi ini, kita harus pahami dan maknai kembali bahwa ulama tidak penakut bahkan ihklas untuk mati sekalipun, sepanjang berada dalam rangkaian tujuan hidup mereka untuk ummat. Oleh karenanya, saat ini tentu kita yang harus takut, takut kehilangan mereka yang selama ini dengan semua ketulusan dan keihklasannya, membawa kehidupan kita dari generasi ke generasi dituntun pada jalan kebenaran Maha Pencipta.

Mari kita semua menjaga mereka dengan cara kita masing-masing. Sesuaikan fungsi kita di negara ini untuk menjaga mereka, karena kita pasti bisa. Jangan biarkan hanya para ulama saja yang mewajibkan dirinya untuk punya komitmen yang tinggi mengemban tugas memperbaiki tatanan kehidupan kita. Saat ini mereka sedang dijadikan target korban dari orang maupun kelompok kejahatan, tentulah kita yang menjaganya. Semua lini tidak ada yang boleh berpangku tangan, kita boleh sabar menunggu, serta percaya pada proses penyelidikan fakta oleh aparat,namun tidak dengan membiarkan mereka para ulama jadi korban. Apapun yang menjadi alasan dan tujuan perbuatan kelompok ini. kita tentu berkewajiban menjaga para ulama jangan menjadi korban tujuan dan target mereka. (Penulis adalah Wakil Bupati Madina, Politikus PKB; Note; Sebahagian data diadopsi dari berbagai Media)

loading...

Komentar Facebook

Related Posts